Mobil
melaju standart dari arah Medan menuju Aceh Tamiang, perbatasan Aceh dengan
Sumatera Utara. Aku tetap saja tertidur dengan nyenyak, seperti biasanya. Aku
memang sering tidur di kendaraan, termasuk di angkot ketika aku akan pergi ke
kampus. Sepertinya tidur di kendaraan itu sudah menjadi kebiasaanku, rasanya
kalo’ udah di dalam kendaraan dan mendapatkan posisi wenak, gak ada kesibukan
lain yang kulakukan selain tidur. Zzzz…
“Tiiit
tiiit tiiit, jengglong.” Begitulah kira-kira suara yang kudengar sehingga aku
tersadar dari tidurku. Aku memandang keluar jendela. Ada kantor polisi, dan
ternyata aku sudah sampai di terminal kuala simpang.
“Pinggir,
Pak” ucapku.
Kukeluarkan
isi dompetku dan membayar ongkos dengan ATM, ternyata harus dengan uang tunai.
Yah apa boleh buat, kukeluarkan lagi uang seharga 5 ribuan sebanyak 6 lembar.
Uang telah diterima oleh pak supir, dan aku segera turun. Aku berjalan menuju
tempat dimana mobil tujuan Tenggulun biasanya mangkal.
“Mau
kemana, Dik?” Tanya seorang lelaki setengah baya.
“Ke
Tenggulun.” Jawabku.
“Waduh,
mobilnya baru aja berangkat. Adik udah ketinggalan.”
“Yah,
kira-kira ada gak ya mobil trip ke-2?”
“Sepertinya
tidak ada.”
“Yaudah,
trimakasih ya, Bg.”
Aku
kembali kearah jalan raya dan berniat mencari tempat peristirahatan yang aman.
Aku memilih musholah depan terminal untuk tempatku istirahat. Angin di aceh
berhembus sepoi-sepoi membuatku melayang kealam bawah sadar dan melihat suatu
rekaman peristiwa masa lalu…
***
Di
sini, di tempat ini aku merasakan sesuatu. Ketika hadirnya masih menghiasi
hariku, senyumnya membuatku bahagia, dan amarahnya yang mengekangku dalam
kedamaian.
“Ayah…”
hanya kata itu yang terlirih dari bibirku.
Ingatkah?
Ketika bersama dulu? Ingatkah ketika kita bermain bersama? Melangkahkan kaki
pada tujuan bersama. Penuh keceriaan, canda tawa dan senda gurau tiada henti.
Mampukah aku mengulang waktu? Merasakan hal yang sama saat ini? Mungkinkah…?
Aku gak tau apa yang sedang direncanakan oleh-Nya. Tapi yang pasti, sebagai
hamba yang hanya mampu menjalani semua tanpa memberontak aku pun menjalani
semuanya hingga kini. Meski pertanyaan datang bertubi-tubi menghimpit dada
sesak terasa, menguras air mata yang telah kering, aku tetap berusaha untuk
tegar. Menopang semuanya diatas pundak yang tak lagi kokoh, berfikir positif
walau tidak lagi rasional. Akankah terulang? Sepertinya tidak.
Aku
menutup mataku, seolah tak mau lagi melihat apapun, melihat sketsa-sketsa masa
lalu yang mampu mengundang kegalauan, hm no more galau…
Kuambil
handphone yang sejak tadi mengurung diri di dalam tas. Aku berniat mengirim sms
kepada sepupuku, Santo.
“San,
aku di terminal kuala simpang nech.”
“Naik
damri aja.” Balasnya.
“Udah
ketinggalan, dan gak ada trip ke-2”
“Yaudah,
naik kendaraan arah ke Pulo Tiga, nanti kamu turunnya di simpang Pulo Tiga aja
biar aku yang jemput.”
“Okelah”.
Aku
kembali lagi ke terminal namun untuk mencari kendaraan yang berbeda. Setelah
kutemui kendaraan yang dimaksud, aku segera masuk ke dalam dan duduk tenang di
sana. Kendaraan melaju awalnya dengan perlahan, namun kemudian kelajuannya
bertambah. Beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti di Seumadam. Aku melihat
keluar jendela. Ada sebuah warung di sana. Rasanya sketsa-sketsa cerah bersama
ayah selalu membayangiku, membuat hatiku teriris miris tapi tidak mampu
kutemukan. Apakah ayah ingat? Mungkinkah ayah di sana mengingat aku di sini?
Aku hanya wanita cilik yang tidak tau menau masalah itu, membaca fikiran orang
dihadapanku saja aku tak mampu. Konon lagi orang yang tidak kuketahui
keberadaannya.
Sejak
aku kelas VII, aku mulai kehilangan kasih kedua orang tuaku. Mulanya dari
ibuku, karena ibuku pergi merantau. Lalu, ayahku menyusul. Setelah aku
menamatkan sekolah menengah pertamaku, ibuku kembali padaku. Akan tetapi ayah
enggak. Ayah pergi bagai layangan yang putus benangnya. Tak tau lagi kemana
perginya…
Aku
pun pergi bersama ibuku meninggalkan tanah kelahiranku ini, Aceh Tamiang.
Tempatku dulu bermanja dan mendapat kasih sayang penuh oleh keduanya. Aku pergi
menuju ke Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Karo, Kecamatan Kabanjahe. Aku
melanjutkan sekolah SLTA di MAN Kabanjahe. Dan lagi-lagi aku harus menamatkan
sekolahku tanpa ayah. Huft,,, sudahlah menyesal pun tiada guna. Menangis juga
tak akan merubah semuanya.
***
“Simpang
depan, pinggir ya Bang.” Pintaku pada sang supir. Tanpa pikir panjang, abang
supir menghentikan kendaraan yang sedang di kendarainya. Aku segera turun
setelah membayarkan ongkosnya. Kuperhatikan sekitar simpang 3 ini, mencari
sepupuku si Santo. Kudapati dia diatas tunggangannya, sebuah Honda berwarna
merah. Dia mengenakan kaos panjang berwarna biru donker dan celana training
berwarna selaras dengan kaosnya. Helm hitam di kepalanya tidak membuatku keliru
dalam hal menandainya. Aku melambaikan tangan, dan dia membalasnya. Aku berlari
menuju ke arahnya dan segera mengambil posisi. Dia menyalakan mesin hondanya
dan membuat kendaraan ini kembali bergerak membawa kami ke tempat tujuan
sesungguhnya.
“Rat,
nanti kita ke Kampung Selamat dulu, ya?” ucapnya mengawali pembicaraan.
“Ya,
bolehlah.”
Benar
sesuai rencana, kami pergi ke Kampung Selamat karena ada acara Grass Track.
Setelah puas melihat acara tersebut, kami mampir ke sungai untuk membersihkan
lumpur yang menempel di kaki, dan tempat lain. Kemudian, kami pun pulang dengan
membawa perasaan masing-masing.
“Kamu
sebelumnya pernah ke kampung ini”
“Seingatku,
belum San.” Jawabku.
“Masak
sih kamu lupa. Aku, kamu, dan ayahmu kan pernah datang ke sini.”
“Bukannya
waktu itu, kita ke Gunung Pandan ya?”
“Iya,
ini kan jalan arah ke sana.”
“Masak
sih? Aku gak tahu.”
“Itulah,
makanya ku kasih tahu.” Katanya lagi.
“Iya
iya”, jawabku singkat.
Memang
rasanya sangat sungguh tidak bijaksana jika aku hanya mengingat kesalahan ayah
yang meninggalkan aku dan keluarga. Tapi, mungkin akan lebih lengkap jika aku
tetap mengenangnya sebagai sosok yang pernah berarti dalam hidupku…
Ingatkah
ayah padaku? Pedulikah pada hidupku kini? Aku tak tau pasti, tapi akan tetap
kuyakini bahwa ayah pasti mengingatku. Hal ini kulakukan untuk meminimalisir
rasa sakit hati yang selalu kupendam sendiri.


Superr Sekali Kisah Dalam Blog nya :)
BalasHapusterima kasih :)
BalasHapus