Apakah Ayah Ingat???

by 21.18 2 komentar

Mobil melaju standart dari arah Medan menuju Aceh Tamiang, perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Aku tetap saja tertidur dengan nyenyak, seperti biasanya. Aku memang sering tidur di kendaraan, termasuk di angkot ketika aku akan pergi ke kampus. Sepertinya tidur di kendaraan itu sudah menjadi kebiasaanku, rasanya kalo’ udah di dalam kendaraan dan mendapatkan posisi wenak, gak ada kesibukan lain yang kulakukan selain tidur. Zzzz…
“Tiiit tiiit tiiit, jengglong.” Begitulah kira-kira suara yang kudengar sehingga aku tersadar dari tidurku. Aku memandang keluar jendela. Ada kantor polisi, dan ternyata aku sudah sampai di terminal kuala simpang.
“Pinggir, Pak” ucapku.
Kukeluarkan isi dompetku dan membayar ongkos dengan ATM, ternyata harus dengan uang tunai. Yah apa boleh buat, kukeluarkan lagi uang seharga 5 ribuan sebanyak 6 lembar. Uang telah diterima oleh pak supir, dan aku segera turun. Aku berjalan menuju tempat dimana mobil tujuan Tenggulun biasanya mangkal.
“Mau kemana, Dik?” Tanya seorang lelaki setengah baya.
“Ke Tenggulun.” Jawabku.
“Waduh, mobilnya baru aja berangkat. Adik udah ketinggalan.”
“Yah, kira-kira ada gak ya mobil trip ke-2?”
“Sepertinya tidak ada.”
“Yaudah, trimakasih ya, Bg.”
Aku kembali kearah jalan raya dan berniat mencari tempat peristirahatan yang aman. Aku memilih musholah depan terminal untuk tempatku istirahat. Angin di aceh berhembus sepoi-sepoi membuatku melayang kealam bawah sadar dan melihat suatu rekaman peristiwa masa lalu…
***
Di sini, di tempat ini aku merasakan sesuatu. Ketika hadirnya masih menghiasi hariku, senyumnya membuatku bahagia, dan amarahnya yang mengekangku dalam kedamaian.
“Ayah…” hanya kata itu yang terlirih dari bibirku.
Ingatkah? Ketika bersama dulu? Ingatkah ketika kita bermain bersama? Melangkahkan kaki pada tujuan bersama. Penuh keceriaan, canda tawa dan senda gurau tiada henti. Mampukah aku mengulang waktu? Merasakan hal yang sama saat ini? Mungkinkah…? Aku gak tau apa yang sedang direncanakan oleh-Nya. Tapi yang pasti, sebagai hamba yang hanya mampu menjalani semua tanpa memberontak aku pun menjalani semuanya hingga kini. Meski pertanyaan datang bertubi-tubi menghimpit dada sesak terasa, menguras air mata yang telah kering, aku tetap berusaha untuk tegar. Menopang semuanya diatas pundak yang tak lagi kokoh, berfikir positif walau tidak lagi rasional. Akankah terulang? Sepertinya tidak.
Aku menutup mataku, seolah tak mau lagi melihat apapun, melihat sketsa-sketsa masa lalu yang mampu mengundang kegalauan, hm no more galau…
Kuambil handphone yang sejak tadi mengurung diri di dalam tas. Aku berniat mengirim sms kepada sepupuku, Santo.
“San, aku di terminal kuala simpang nech.”
“Naik damri aja.” Balasnya.
“Udah ketinggalan, dan gak ada trip ke-2”
“Yaudah, naik kendaraan arah ke Pulo Tiga, nanti kamu turunnya di simpang Pulo Tiga aja biar aku yang jemput.”
“Okelah”.
Aku kembali lagi ke terminal namun untuk mencari kendaraan yang berbeda. Setelah kutemui kendaraan yang dimaksud, aku segera masuk ke dalam dan duduk tenang di sana. Kendaraan melaju awalnya dengan perlahan, namun kemudian kelajuannya bertambah. Beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti di Seumadam. Aku melihat keluar jendela. Ada sebuah warung di sana. Rasanya sketsa-sketsa cerah bersama ayah selalu membayangiku, membuat hatiku teriris miris tapi tidak mampu kutemukan. Apakah ayah ingat? Mungkinkah ayah di sana mengingat aku di sini? Aku hanya wanita cilik yang tidak tau menau masalah itu, membaca fikiran orang dihadapanku saja aku tak mampu. Konon lagi orang yang tidak kuketahui keberadaannya.
Sejak aku kelas VII, aku mulai kehilangan kasih kedua orang tuaku. Mulanya dari ibuku, karena ibuku pergi merantau. Lalu, ayahku menyusul. Setelah aku menamatkan sekolah menengah pertamaku, ibuku kembali padaku. Akan tetapi ayah enggak. Ayah pergi bagai layangan yang putus benangnya. Tak tau lagi kemana perginya…
Aku pun pergi bersama ibuku meninggalkan tanah kelahiranku ini, Aceh Tamiang. Tempatku dulu bermanja dan mendapat kasih sayang penuh oleh keduanya. Aku pergi menuju ke Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Karo, Kecamatan Kabanjahe. Aku melanjutkan sekolah SLTA di MAN Kabanjahe. Dan lagi-lagi aku harus menamatkan sekolahku tanpa ayah. Huft,,, sudahlah menyesal pun tiada guna. Menangis juga tak akan merubah semuanya.
***
“Simpang depan, pinggir ya Bang.” Pintaku pada sang supir. Tanpa pikir panjang, abang supir menghentikan kendaraan yang sedang di kendarainya. Aku segera turun setelah membayarkan ongkosnya. Kuperhatikan sekitar simpang 3 ini, mencari sepupuku si Santo. Kudapati dia diatas tunggangannya, sebuah Honda berwarna merah. Dia mengenakan kaos panjang berwarna biru donker dan celana training berwarna selaras dengan kaosnya. Helm hitam di kepalanya tidak membuatku keliru dalam hal menandainya. Aku melambaikan tangan, dan dia membalasnya. Aku berlari menuju ke arahnya dan segera mengambil posisi. Dia menyalakan mesin hondanya dan membuat kendaraan ini kembali bergerak membawa kami ke tempat tujuan sesungguhnya.
“Rat, nanti kita ke Kampung Selamat dulu, ya?” ucapnya mengawali pembicaraan.
“Ya, bolehlah.”
Benar sesuai rencana, kami pergi ke Kampung Selamat karena ada acara Grass Track. Setelah puas melihat acara tersebut, kami mampir ke sungai untuk membersihkan lumpur yang menempel di kaki, dan tempat lain. Kemudian, kami pun pulang dengan membawa perasaan masing-masing.
“Kamu sebelumnya pernah ke kampung ini”
“Seingatku, belum San.” Jawabku.
“Masak sih kamu lupa. Aku, kamu, dan ayahmu kan pernah datang ke sini.”
“Bukannya waktu itu, kita ke Gunung Pandan ya?”
“Iya, ini kan jalan arah ke sana.”
“Masak sih? Aku gak tahu.”
“Itulah, makanya ku kasih tahu.” Katanya lagi.
“Iya iya”, jawabku singkat.
Memang rasanya sangat sungguh tidak bijaksana jika aku hanya mengingat kesalahan ayah yang meninggalkan aku dan keluarga. Tapi, mungkin akan lebih lengkap jika aku tetap mengenangnya sebagai sosok yang pernah berarti dalam hidupku…
Ingatkah ayah padaku? Pedulikah pada hidupku kini? Aku tak tau pasti, tapi akan tetap kuyakini bahwa ayah pasti mengingatku. Hal ini kulakukan untuk meminimalisir rasa sakit hati yang selalu kupendam sendiri.

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

2 komentar: