Iqra' Vs Mathemathic

by 22.10 0 komentar


Adzan yang berkumandang dengan suara muadzin yang khas dari sebuah mesjid bernama Al-Hasanah menandakan waktu sholat maghrib tiba. Mesjid Al-hasanah yang merupakan salah satu mesjid di kecamatan Medan Polonia pun seketika dipenuhi oleh jama’ah yang mayoritasnya adalah anak-anak. Anak-anak sangat antusias melaksanakan sholat Maghrib karena setelah ini mereka akan mengerjakan rutinitas mereka yakni mengaji, mereka menyebutnya dengan Gemar Maghrib Mengaji yang artinya mereka mengaji setelah melaksanakan sholat Maghrib. Selain itu, mesjid ini juga merupakan sekretariat dari anak-anak Formal Hasanah, suatu organisasi yang di kelola oleh anak remaja di sekitar mesjid ini. Baik agenda rapat, pengajian, dan masih banyak acara dari Formal Hasanah dilakukan di mesjid ini.


Anak-anak yang sangat haus akan ilmu membaca Al-Qur’an segera memenuhi tempat mereka belajar. Bukhori adalah seorang ustadz yang akan mengajari mereka bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Sebelum belajar membaca Al-Qur’an, mereka akan belajar membaca Iqra’ yakni buku yang di dalamnya banyak tata cara membaca huruf-huruf hijaiyah satu per satu. Namun, mulai malam ini mesjid bukan hanya di isi oleh anak-anak mengaji saja melainkan untuk anak-anak les matematika. Dedek adalah guru les yang akan menuangkan ilmu matematikanya kepada anak-anak. Bukhori heran atas perubahan ini, padahal selama ini dialah yang berkuasa penuh atas anak-anak dan mesjid ini. Dedek ngerasa gak enak terhadap Bukhori dan ia takut kalau Bukhori akan tersinggung, tapi dia harus menggunakan mesjid ini karena rumahnya yang semula dekat mesjid sekarang sudah pindah dan jauh dari mesjid.

Akhirnya, mereka berjalan sesuai relnya. Bukhori dengan Iqra’nya dan Dedek dengan Matematikanya. Namun, karena whiteboard yang memang cuma satu dan timbal balik mereka pun harus beradu suara karena suara anak-anak mengaji dan anak-anak les tidak bisa terbendung hanya dengan menggunakan selembar whiteboard. Perseteruan dari kedua pihak pun terjadi, suasana jadi ricuh dan Dedek yang gak bisa denger ribut-ribut pun mengeluarkan emosinya. Adzan sholat Isya lah yang mampu meredam suara dan emosi mereka. Setelah sholat Isya selesai, Dedek dan Bukhori pun membicarakan masalah ini di Formal Hasanah karena kebetulan mereka merupakan anggota dari organisasi tersebut.

“Kenapa sih tiba-tiba qo’ ada les di mesjid? Anak-anak ngaji kan jadi gak bisa serius.” Ungkap Bukori.

“Rumahku kan jauh, Bang. Lagian Formal Hasanah dan BKM mesjid juga udah ngijinin qo. Coba abang fikirlah, kalo anak-anak les yang datang kerumahku kasihan, Bang. Ntar jauh kali mereka kesana. Abang ngertilah.” Sahut Dedek tak mau kalah.

“Iya, tapikan suasana jadi gak karuan, ada anak-anak yang bertengkar, ada yang bermain dan masih banyak lagi tingkah mereka. Yang ada gak ada satupun dari mereka yang fokus ngaji ataupun les.”

“Itu mah salah abang, kenapa abang gak bisa mengontrol anak-anak abang. Anak-anakku anak yang baik, biasanya mereka gak pernah bandel kayak gini, kalo gak karena anak-anak abang, anak-anakku gak mungkin buat keributan seperti tadi.”

“Loh, qo jadi nyalahkan abang, Dek? Harusnya dedek gak pake emosi tadi. Bukannya dedek yang selama ini ajarin ke kita semua untuk selalu bertindak dengan kepala dingin?”

“Aku pusing bang. Apalagi situasi dengan kericuhan seperti tadi.”

“Sudah cukup! Cukuplah anak-anak kalian yang berseteru. Jangan kalian pula yang jadi bertengkar. Harusnya kita sebagai remaja mesjid dapat menyelesaikan semua persoalan tanpa emosi. Bang Bukhori yang notabenenya sebagai pengajar ngaji memang berhak mempertanyakan keputusan ini, tapi Kak Dedek juga punya hak. Secara dia dapat izin dari Bapak Ketua BKM kita. Sebenernya ini hanya permasalahan biasa yang gak harus jadi perdebatan yang dapat mempermalukan kita sendiri. Aku yakin, Abang dan Kakak dapat berfikir jernih dalam menangani hal ini. kita sebagai insan yang berpengetahuan harusnya mampu menjaga nama baik mesjid kita khususnya formal hasanah karena biar bagaimanapun kalian berdua merupakan anggota dari organisasi ini.” Ucap Adri, sebagai ketua Formal Hasanah menengahi.

“Jadi, coba kita fikirkan bersama bagaimana cara untuk menyelesaikan semua ini. Gak mungkin kalau anak-anak les yang harus menempuh perjalanan ke rumah Kak Dedek yang cukup jauh. Kalau Kak Dedek harus berhenti mengajar les, aku gak setuju karena adik aku juga les sama Kak Dedek.” Dwi angkat bicara.

“Lantas, apakah situasi ini kita biarkan?” Tanya Wira.

“Gak bisa. Kalau dibiarkan, kericuhan akan terjadi dan kita akan menuai protes dari berbagai kalangan.” Tentang Bukhori.

“Sebenarnya mesjid kita ini gak kecil. Kan ada dua serambi, yang dekat jalan seperti biasa bisa di isi oleh anak mengaji dan yang dekat pintu masuk jama’ah perempuan bisa di isi oleh Kak Dedek dan anggotanya.” Jelas Wildah.

Whitaboardnya kan Cuma satu, Dik.” Jawab Bukhori pada Wildah.

“Kalo gak gini aja. Kita coba untuk membeli whiteboard yang satu lagi. Uang kas kita cukup kan Kak Dew?” tanya Adri pada Kak Dewi yang merupakan bendahara Formal Hasanah.

“Cukup sih sebenernya. Tapi kayaknya gak usah dulu deh. Kalo enggak gini aja, besok kita lihat perkembangannya. Bukhori dan Dedek kan udah sama-sama berpendidikan, masa’ sih gak bisa mendidik anak-anaknya masing-masing dan mengontrol mereka agar agak tenang selama pembelajaran?” ujar Kak Dewi.

“Yaudah! Kita lihat besok. Kalau hal ini terjadi lagi, akan kita bahas lagi. Aku berharap kita sama-sama bisa mengerti keadaan. Bagi yang punya adik harap memberitahu adiknya masing-masing untuk tidak membuat keributan. Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini.” Ucap Adri menutup pertemuan.

Pertemuan pun di tutup, malam yang larut pun turut membuat mereka larut dalam keletihan. Akan tetapi, lain halnya dengan Bukhori dan Dedek. Mereka berdua lelah namun sama-sama gelisah. Mereka tak mengerti kenapa bisa gelisah seperti itu.

“Apa aku terlalu kasar terhadap Dedek tadi ya” fikir Bukhori.

Bukhori pun segera mengambil handphone dan mulai mengetik sms, namun belum sempat ia menekan tombol sent, ada sms masuk.

“Hah? Dari Dedek? Ada apa ya?” tanyanya sambil membuka pesan itu.

“Aku minta maaf, Bang. Gak seharusnya kita menggunakan amarah atau emosi dalam hal ini. mungkin aku yang harus mengalah, Bang. Besok aku akan membicarakan pada Ketua BKM tentang hal ini. Aku tidak akan mengajar di Mesjid lagi. Aku ngerasa gak enak ama abang. Maaf ya bang.” Begitulah pesan dari Dedek.

Bukhori terdiam dalam hening, hanya suara cicaklah yang riuh renyah memecah suasana.

“Apa aku yang terlalu kasar dan keras ya? Dia gadis yang halus, harusnya aku gak usah sok berkuasa.” Fikir Bukhori, dia pun teringat pada kata-kata Dedek yang selalu bilang, “Abang jangan terlalu keraslah bang. Aku tahu watak abang emank gitu, tapi ketika kita berbicara dengan orang lain kita gak bisa membawa diri kita ke dalam pembicaraan. Kita harus mampu masuk ke dalam diri lawan bicara kita agar kita dapat mengerti yang dia rasakan.” Demikian kata-kata yang acap kali di ucapkan Dedek terhadap Bukhori. Bukhori langsung mengetik balasan pesan dari Dedek.

“Harusnya abang yang minta maaf, Dek. Abang yang kurang mengerti Adek, Abang selalu ngerasa kalau hanya Abanglah yang berkuasa di sini. Padahal enggak! Masalah anak-anak besok kita harus lebih ekstrim lagi menjaga mereka. Abang yakin kita bisa. Kita gak boleh mempemalukan diri kita, organisasi kita, dan mesjid kita tercinta. Jangan berhenti mengajar di mesjid karena kita harus tunjukkan ke semua orang kalau fungsi mesjid bukan hanya untuk melaksanakan sholat melainkan juga bisa untuk belajar. Mempelajari ilmu dunia dan akhirat. Ayolah Dek! Kita pasti mampu.” Setelah itu Bukhori menekan tombol sent.

Tak berapa lama, “Iya, Bang. Terima kasih. Kita harus bisa bekerja sama dalam hal ini.” pesan dari Dedek.

“Iya, yasudah. Malam tlah larut. Tidurlah!”

“Iya ,Bang.”

Keesokan harinya, seperti sebelumnya. Anak-anak bersiap-siap untuk mengaji dan les. Dedek ke kubu matematika dan Bukhori ke kubu Iqra’. Dedek pun angkat bicara,

“Assalamu’alaikum adek-adek kakak.”

“Wa alaikum salam, Kak.” Jawab anak matematika.

“Kalian sayang sama kakak?”

“Sayang, Kak.”

“Kalau kalian sayang, kakak minta tolong selama kita belajar jangan ada yang berisik. Oke?!”

“Iya, Kak.”

“Nah gitu donk. Pintar semuanya.”

“Ternyata dia memang gadis yang halus. Kemarahannya semalam tak mampu menepis kehalusan budinya. Meskipun ia tak sperti remaja lain yang glamor kemilau perkembangan zaman, tapi hatinya lebih kemilau dibanding cahaya. Aku malu terhadapnya.” Ucap Bukhori dalam hati.

Melihat Bukhori setengah melamun, Ega pun mengagetkan Bukhori.

“Derrrr! Hayo ustadz mikirin apa?”

“Gak ada. Udah ayo kita belajar. Ustadz gak mau kita ribut seperti semalam. Mengerti!?”

“Mengerti Ustadz.”

Setelah selesai mereka pun sholat Isya berjama’ah lalu pulang.

“Tiiit.” Dering handphone Dedek menandakan ada pesan masuk.

“Terima kasih telah mengajarkanku tentang kelembutan dan kehalusan. Terima kasih juga sudah memberikan kesan yang menancap dalam di hatiku.” Dedek keheranan setelah membaca pesan dari Bukhori. Kemudian dia keluar dari mesjid dan mencari Bukhori. Setelah bertemu,

“Maksudnya?” tanya Dedek pada Bukhori.


Namun Bukhori hanya tersenyum, Dedek yang tengah heran pun terpaksa tersenyum seadanya sambil beralih ke jalan arah pulang.

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar