“Apa maksudmu?”
“hm gak ada
maksud apa-apa. Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Jelek tau!!!”
“Apa urusannya
sama kamu?”
“Yeee, di
bilangin ngeyel.” Ucap muza kesal.
Mereka berdua
kembali berjalan kearah rumah masing-masing. Muza dengan kekesalannya, dan ken
dengan kesedihannya. Ingatan ken kembali terngiang-ngiang tentang hubungan
manisnya bersama teman-temannya sewaktu ulang tahunnya. Waktu itu, temannya
rela pulang malam hanya karena ingin memberinya kejutan dan merayakan ulang
tahunnya. Mereka berlima sangat bahagia. Mungkin perasaan teman yang seperti
sahabat sudah menggeluti fikiran mereka. Tak peduli seberapa lelahnya mereka
menghadapi hari itu. Sungguh, mereka benar-benar melupakan kesedihan mereka
masing-masing. Sekali lagi ken terisak-isak karena sekarang dia sudah merasa
tidak dipedulikan.
Keesokan
harinya, ken masuk kelas dengan sejuta rasa. Dia melihat keempat temannya yang
masih saja dingin. Ken diam. Dia gak tau apa yang harus dilakukannya. Biasanya
setiap dia masuk kelas, ada saja ulah temannya yang mampu membahagiakannya.
Tapi kali ini tidak. Teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing. Ken
duduk diposisi paling belakang. Suatu tindakan yang tidak pernah dilakukannya.
Dia melakukan itu karena dia ingin tenang dengan kesendiriannya dibelakang.
Mungkin, dari sinilah keapatisannya itu muncul.
Dia tidak lagi
aktif di kelas. Dia hanya masuk, duduk, diam, dan pulang. Ironisnya, sama
sekali tidak ada yang memahami keadaannya. Tidak ada yang menanyakan bagaimana
suasana hatinya, gelutan fikirannya, perubahan sikapnya, atau sekedar
berbasa-basi menanyakan tugas padanya. Dia bermain nafsi-nafsi, tugas kelompok
dikerjakannya sendiri, demikian juga tugas individunya. Sungguh, keadaan yang
sangat memilukan hatinya.
***
“Kamu kenapa,
Ken?” Tanya Muza.
Ken merasa
muzalah orang yang bertanya akan hal itu kepadanya. Awalnya dia tidak merespon
pertanyaan muza, tapi pintarnya muza bersilat lidah akhirnya ken pun luluh dan
bercerita semuanya. Sakit hatinya, keadaan hidupnya, dan semua hal-hal yang
membuatnya seperti ini. Muza sangat mengerti apa yang tengah dialami oleh ken.
Krisis kepedulian, kiranya itulah yang terfikir oleh muza.
Sejak ada muza,
ken merasa hari-harinya tidak sepi. Muza mempedulikan ken, hingga akhirnya ken
masuk dalam buaian kasih muza. Entah apa yang terjadi pada ken. Ken merasa ada
sesuatu yang berbeda. Perbedaaan itu sangat signifikan. Gimana ini? Ken butuh
muza.
Suatu hari, ken
pergi mencari muza ke taman. Malam itu, malam bulan purnama. Ken berharap kalau
muza berada di taman itu. Ken ingin mengatakan semua yang dirasakannya itu ke
muza. Dia mencari dan mencari, matanya melirik kesana dan kemari, namun muza
sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Ken duduk di tepi danau yang
berada di sekitar taman itu. Tenangnya danau mampu memantulkan purnama dan
terlihat begitu indah. Tiba-tiba mata ken tertuju pada bayangan manusia yang
ada di danau tersebut. Ken melihat sepasang manusia dan ken mengenali pantulan
itu. Dengan segera ken mengarahkan pandangannya kearah manusia asal si pantulan
tersebut. Ken tak menyangka, mulut ken ternganga (tapi gak sampai ngences ya),
mata ken pun terbelalak. Ken melihat muza. Harusnya ken bahagia, tapi bukan
hanya muza yang dilihatnya, melaninkan mmuza seang bersama dengan salah seorang
temannya, Anis.
Kaki ken seolah
tertata rapi untu melangkahkan kaki mendekati mereka. Pendengaran ken semakin
lama semakin menunjukkan kelebihannya. Ken bersebunya di balik pohon di dekat
muza dan anis. Ken mendengarkan percakapan mereka.
“Akhir-akhir ini
kamu sepertinya agak dekat dengan Ken.” Ungkap anis.
“Enggak ah,
perasaan kamu aja kali.” Jawab muza.
“Beneran?”
“Iya, anisku
sayang. Kamu cemburu ya?”
“Iya dunk. Aku
kan pacar kamu. Siapa yang gak cemburu kalau pacarnya deket ama cewek lain?”
“Iya aku tau,
dan aku juga gak bakal kelewatan kok J”
Ken merasa
sangat terpukul. Ken sangat tidak mengerti dengan apa yang menjadi latar
belakang muza bertingkah seolah-olah peduli seperti itu. Ken sungguh tak
mengerti. Ken terdiam dan terduduk. Otaknya sudah tak mampu lagi untuk memikirkan
semuanya. Dia gak tau, apa yang seharusnya dia rasakan. Apakah sedih ataukah
bahagia.
Setelah hilang
lemasnya karena mendengar percakapan yang tidak seberapa itu, dia memutuskan
untuk pulang. Fikirannya melayang jauh. Dan dia mengambil keputusan, lebih baik
diam.


0 komentar:
Posting Komentar