Tirai Kasih Yang Terkoyak #2

by 21.52 0 komentar


“Apa maksudmu?”
“hm gak ada maksud apa-apa. Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Jelek tau!!!”
“Apa urusannya sama kamu?”
“Yeee, di bilangin ngeyel.” Ucap muza kesal.
Mereka berdua kembali berjalan kearah rumah masing-masing. Muza dengan kekesalannya, dan ken dengan kesedihannya. Ingatan ken kembali terngiang-ngiang tentang hubungan manisnya bersama teman-temannya sewaktu ulang tahunnya. Waktu itu, temannya rela pulang malam hanya karena ingin memberinya kejutan dan merayakan ulang tahunnya. Mereka berlima sangat bahagia. Mungkin perasaan teman yang seperti sahabat sudah menggeluti fikiran mereka. Tak peduli seberapa lelahnya mereka menghadapi hari itu. Sungguh, mereka benar-benar melupakan kesedihan mereka masing-masing. Sekali lagi ken terisak-isak karena sekarang dia sudah merasa tidak dipedulikan.
Keesokan harinya, ken masuk kelas dengan sejuta rasa. Dia melihat keempat temannya yang masih saja dingin. Ken diam. Dia gak tau apa yang harus dilakukannya. Biasanya setiap dia masuk kelas, ada saja ulah temannya yang mampu membahagiakannya. Tapi kali ini tidak. Teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing. Ken duduk diposisi paling belakang. Suatu tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Dia melakukan itu karena dia ingin tenang dengan kesendiriannya dibelakang. Mungkin, dari sinilah keapatisannya itu muncul.
Dia tidak lagi aktif di kelas. Dia hanya masuk, duduk, diam, dan pulang. Ironisnya, sama sekali tidak ada yang memahami keadaannya. Tidak ada yang menanyakan bagaimana suasana hatinya, gelutan fikirannya, perubahan sikapnya, atau sekedar berbasa-basi menanyakan tugas padanya. Dia bermain nafsi-nafsi, tugas kelompok dikerjakannya sendiri, demikian juga tugas individunya. Sungguh, keadaan yang sangat memilukan hatinya.
***
“Kamu kenapa, Ken?” Tanya Muza.
Ken merasa muzalah orang yang bertanya akan hal itu kepadanya. Awalnya dia tidak merespon pertanyaan muza, tapi pintarnya muza bersilat lidah akhirnya ken pun luluh dan bercerita semuanya. Sakit hatinya, keadaan hidupnya, dan semua hal-hal yang membuatnya seperti ini. Muza sangat mengerti apa yang tengah dialami oleh ken. Krisis kepedulian, kiranya itulah yang terfikir oleh muza.
Sejak ada muza, ken merasa hari-harinya tidak sepi. Muza mempedulikan ken, hingga akhirnya ken masuk dalam buaian kasih muza. Entah apa yang terjadi pada ken. Ken merasa ada sesuatu yang berbeda. Perbedaaan itu sangat signifikan. Gimana ini? Ken butuh muza.
Suatu hari, ken pergi mencari muza ke taman. Malam itu, malam bulan purnama. Ken berharap kalau muza berada di taman itu. Ken ingin mengatakan semua yang dirasakannya itu ke muza. Dia mencari dan mencari, matanya melirik kesana dan kemari, namun muza sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Ken duduk di tepi danau yang berada di sekitar taman itu. Tenangnya danau mampu memantulkan purnama dan terlihat begitu indah. Tiba-tiba mata ken tertuju pada bayangan manusia yang ada di danau tersebut. Ken melihat sepasang manusia dan ken mengenali pantulan itu. Dengan segera ken mengarahkan pandangannya kearah manusia asal si pantulan tersebut. Ken tak menyangka, mulut ken ternganga (tapi gak sampai ngences ya), mata ken pun terbelalak. Ken melihat muza. Harusnya ken bahagia, tapi bukan hanya muza yang dilihatnya, melaninkan mmuza seang bersama dengan salah seorang temannya, Anis.
Kaki ken seolah tertata rapi untu melangkahkan kaki mendekati mereka. Pendengaran ken semakin lama semakin menunjukkan kelebihannya. Ken bersebunya di balik pohon di dekat muza dan anis. Ken mendengarkan percakapan mereka.
“Akhir-akhir ini kamu sepertinya agak dekat dengan Ken.” Ungkap anis.
“Enggak ah, perasaan kamu aja kali.” Jawab muza.
“Beneran?”
“Iya, anisku sayang. Kamu cemburu ya?”
“Iya dunk. Aku kan pacar kamu. Siapa yang gak cemburu kalau pacarnya deket ama cewek lain?”
“Iya aku tau, dan aku juga gak bakal kelewatan kok J
Ken merasa sangat terpukul. Ken sangat tidak mengerti dengan apa yang menjadi latar belakang muza bertingkah seolah-olah peduli seperti itu. Ken sungguh tak mengerti. Ken terdiam dan terduduk. Otaknya sudah tak mampu lagi untuk memikirkan semuanya. Dia gak tau, apa yang seharusnya dia rasakan. Apakah sedih ataukah bahagia.
Setelah hilang lemasnya karena mendengar percakapan yang tidak seberapa itu, dia memutuskan untuk pulang. Fikirannya melayang jauh. Dan dia mengambil keputusan, lebih baik diam.

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar