Aku
ini harus bagaimana?
“Perahu
kertas ku kan melaju, mengikuti kemana air mengalir. Kubiarkan dia berlari
berlomba dengan arus. Hingga akhirnya, siapakah duluan yang akan sampai di
muara. Perahu kertasku atau arus air itu. Aku mengerti, perahuku hanyalah
perahu kertas. Jangankan untuk sampai ke muara, mungkin seperempat
perjalananpun dia akan habis dimakan air. Biarpun begitu, aku tetap optimis
kalau perahu kertasku akan sampai di muara.
Saat
ini, kehidupan yang kualami seperti perahu kertas itu. Berlari berlomba dengan
arus. Aku tahu, nasib tidak bisa kurubah. Tapi aku yakin, itu bisa kurubah.
Meskipun aku sadar, aku dan takdirku akan bersama-sama menuju rahmatullah.
Seperti perahu kertas dan arus air, mereka akan sampai di muara itu bersama-sama.
Untuk
menuju muara, perahu kertas tidak boleh rusak, walaupun siperahu akan terhalang
oleh halang rintang. Oleh karena itu, perahu itu kubalut dengan plastic. Ide
menarik, fikirku. Sama juga sepertiku, untuk menghadapi halang rintang yang
akan aku temui, aku membalut diriku dengan kekuatan. Apakah itu kekuatan dari
diriku atau dari orang-orang sekitarku (bukan pake obat kuat juga kelles).”___Ken___
Ken ingat waktu Ken kelas 2
aliyah dulu, temennya yang bernama Aisyah bilang, “Temenku yang paling kuat itu
kau, Ken.”
Ken hanya tersenyum,
“Benarkah itu?” fikirnya.
Suatu hari Ken bercerita
pada Aisyah, “Aku gak kuat Sah. Aku mau pergi aja dari rumah itu. Beliau sudah
memberikanku 2 pilihan.”
“Ingat mamakmu, Ken.”
Ucapnya singkat.
Ken pun mengiyakan kata-kata
aisyah. Ken mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah itu. Ken mencoba untuk
bertahan, demi apapun itu untuk kebaikan. Hidup yang seperti terbolak-balik ini
membuatnya tak mengerti. Kisah cinta yang nyarajut malah seperti benang nyasut
yang tidak bisa untuk diuraikan lagi. Kisah cinta yang tak seharusnya terjadi,
yang tak seharusnya diangkat kepermukaan. Gossip demi gossip di sekolah dia hadapi.
Jenjang karir pun dia tapaki. Kehidupan berorganisasi yang dia inginkan sejak
kecil pun dia tempuh. Rasanya campur aduk, dan kerinduannya akan mamaknya yang
terus menonjol membuatnya semakin ingin cepat-cepat lulus.
12 April 2012 menjadi akhir
dari karirnya disekolah. Sebagai penutupan, Ken diberi kesempatan untuk
mengucapkan kata kesan dan pesan mewakili kelas XII putri secara keseluruhan.
Kemudian Mereka berjuang selama 4 hari dalam Ujian Nasional. Mengikuti UN untuk
yang ke-2 kalinya sangat membuatnya deg-degan. Pukul 4 pagi Ken sudah
terbangun, kebetulan di rumah itu juga banyak anak-anak sekolah yang ingin
melaksanakan UN di sekolahnya. Situasi sangat ramai. Pukul 07.00 tepat Ken
kesekolah. Dia pandangi gedung bercat orange cerah bertingkat 2 itu. Ken
memandang tempat Ken mendaftar sekolah dulu, perjuangan di podium, kisah di kelas,
semua sudut yang ada tanpa terkecuali tiang bendera dan juga lapangan.
Beliau lewat di hadapan ken,
kebetulan beliau juga mengawas UN yang berlangsung. Beliau tersenyum pada Ken
memberi semangat. Ken pun membalas senyumannya. Beliau sangat menyayangi ken.
Beliau ibunya ken, ibu yang sudah seperti mamak buat ken. Beliau menjaga dan
merawat ken, beliau mendidik dan mengajari ken, beliau guru ken disekolah
sekaligus fatner kerja ken di rumah. Beliau mempunyai sepasang anak, yakni 1
perempuan dan 1 lelaki. Mereka seperti keluarga kecil yang saling melengkapi. Beliau
selalu mentransfer ilmu yang berguna buat ken, baik itu ilmu Al-Qur’an dan
Hadis serta ilmu memasak sekalipun. Ken menyayangi beliau, karena biar
bagaimanapun beliau sudah memberi banyak hal untuk ken. Baik itu moril dan
materil.
Tapi, yah begitulah Ken.
Entah hidupnya yang emang sudah ditakdirkan untuk digandrungi masalah atau
memang Ken yang selalu salah hingga selalu saja timbul masalah. Entahlah, Ken
sendiri tak mengerti. Mungkinkah itu garisan Illahi? Suatu hari guru fisika Ken
melihat telapak tangan kirinya sambil tersenyum…
“Kenapa, Pak?” Tanya Ken.
“Garis tanganmu itu lho, Ken.”
Jawab gurunya itu.
“Iya kenapa, Pak.”
“Kamu dari kecil sudah punya
masalah ya?”
Dia ingat-ingat lagi masa
kecil yang memang tidak akan dia lupakan itu. Dan seketika Ken menjawab, “Iya
kayaknya, Pak.”
“Hmm, kalo’ bapak lihat sih
kamu harus bersiap-siap dan harus lebih kuat lagi Ken.”
“Untuk apa, Pak?”
“Ya untuk menghadapi masalah
kamu selanjutnya.”
“Owgh gitu ya pak.”
“Iya, Ken.”
“Trus nanti saya kuliah gak
pak? Orang tua saya setuju gak kalo saya kuliah?” Tanya Ken.
“Insya Allah kalau ada
kemauan pasti ada jalannya Ken. Awalnya orang tua kamu mendukung Ken. Tapi di
pertengahan nanti ada kendala yang mungkin menyebabkan kamu untuk berjuang
sendiri, Ken.” Jelasnya.
“Trus pak, masalah cinta
atau persahabatan?” tiba-tiba temennya ken, si putri menanyakan hal itu.
“Kalau masalah cinta,
sepertinya dia akan lama. Dalam artian, dia sukses dulu. Orangnya harus lebih
tua dari dia. Nah, untuk persahabatan mungkin dia harus sedikit lebih bersabar.
Ketika dia sedang menghadapi masalah atau membutuhkan, temannya satu per satu
akan menjauh.” Jelas pak guru lagi.
“Menjauhnya itu karena
kesalahannya atau gimana pak? Maksudnya karena sifatnya atau gimana gitu pak?”
si putri berceloteh lagi.
“Enggak put. Bukan karena
kesalahannya. Tapi, memang udah gitu jalannya. Dia bakalan punya temen banyak,
tapi kalo dia sedang bermasalah ya temennya itu menghilang. Gak tau pada
kemana.” Jelas gurunya lagi.
Ken hanya senyum-senyum gak
jelas. Trus Ken bisa apa? Waktu itu Ken hanya berfikir, “Kalo memang gitu
yaudah, mau digimanan lagi coba?” mungkin ini hanya sepenglihatan guru fisika Ken
itu. Kata orang kita gak boleh meyakini yang begitu-begituan, karena bisa
tergolong musyrik yaitu percaya pada ramalan. Tapi, kadang-kadang memang
kejadian loh. Entah itu terjadi karena keyakinan kita atau memang si bapak yang
agak pande ngelihat hal-hal yang ada di garis tangan ini. Wallahu A’lam.
Kembali ke omongan masalah
yang gak lepas dari dentingan waktu di telinga Ken. Itulah Ken, sudah dibantu
tapi malah buat masalah. Waktu itu, (Ken agak demam) Ken gak berani bilang ke
beliau (maksudnya ibu). Pulang sekolah Mereka bareng. Temennya si Dyah datang
ke rumah buat nanyain apa gitu? Anak perempuan ibu minta dibuatin susu, Ken
bilang sebentar, sebentar lagi, sebentar, dan sebentar. Hingga akhirnya ibu
mutusin buat susu sendiri unuk anaknya. Setelah selesai berbicara dengan Dyah, Ken
masuk ke dalam dan suasana di dalam hening. Ibu dan anaknya sudah masuk ke
kamar mereka. Karena Ken yang memang agak kurang fit memutuskan untu masuk ke
kamarnya juga. Ken tertidur kemudian Ken terbangun dan ingat bahwa piring belum
dicuci. Ken keluar kamar. Ken lihat ibu di dapur,
“Ibu mau bicara sama Ken.”
Ucap ibu.
“Bicara apa, Buk?”
“Dari awal sebelum Ken ke
rumah ini kan ibu sudah mengatakan kalau ibu itu cerewet. Belum ada satu bulan Ken
di sini, tapi udah begini. Kalau sudah tidak mau lagi di sini yasudah. Cari aja
kos yang lain. Paham?” (beginilah agaknya yang ibu bilang seingatnya).


0 komentar:
Posting Komentar