(Terlihat
sekelompok anak Pramuka, yang dengan menggunakan pakaian lengkapnya mereka
seperti Pramuka Penggalang. Ada yang menikmati makanannya, ada yang sibuk
membolak-balik peta, ada yang bersandar sambil bersantai ria, dan ada yang celingukan kesana dan kemari. Ntah
apa yang dicarinya. Arahkah?)
Dewi: “Waduh! Dimana kita ini?”
Bayu: (berdiri dari sandarannya) “Aku juga gak
tahu, Wi. (Ucapnya pada dewi)
Dewi:
“Kayaknya kita tersesat.”
Wildah:
“Dari mana kamu tahu?”
Dewi: “Aku
pernah menjalani rute yang seharusnya kita jalani. Tapi aku rasa ini bukan
jalannya.”
Bayu: “Mam,
gimana sih cara baca petanya? Masa’ kita tersesat gini?”
Imam: “Ya
aku juga gak tahu, Bay. Emangnya Cuma aku yang pegang peta?”
Dewi: “Kan
emang Cuma kamu, Mam.” (sambil melirik
kearah Imam)
Imam: “Oh
iya, sorry sorry. Tapi, mungkin ada yang salah dari peta kita. Kalau enggak,
gak mungkin kita jadi tersesat begini. Atau mungkin, petunjuk arahnya yang
salah?” (sambil melirik keatas dan
menggaruk kepalanya yang tidak gatal layaknya orang berfikir)
Wildah:
“Coba tanyakan ke Dika aja, Bay. Secara kan dia yang pegang kompasnya.”
Bayu: “Dik,
kamu kan yang pegang kompas. Selain Imam yang menunjukkan arah, kamu juga
berpengaruh. Kira-kira tadi kamu ada salah bidik, gak?”
Dika: “Hmm,
sepertinya iya. Soalnya aku udah laper banget. Biasanya kalau aku laper, suka
salah-salah gitu.” (ucapnya yang sedang
makan dengan lahapnya)
Bayu, Dewi,
Wildah dan Imam: “Dikaaaaaaaaaa…”
Dika: “Saya.
Gak usah pake teriak-teriak napa sih? Ini hutan loh. Ntar kalau ada yang
ngerasa terganggu, gimana?”
Wildah:
“Kita kesasar, Dik. Dan kamu bisa tenang seperti itu?”
Dika:
“Apa??? Tersesat?” (teriaknya histeris)
“Maaf ya teman-teman…”
Bayu, Dewi,
Wildah dan Imam: “iya”(jawab mereka singkat.
Tiba-tiba…)
Dewi:
“Sepertinya ada yang bermasalah dengan kulitku. Loh. Loh, kok jadi begini?” (sambil memeriksa kulitnya yang mulai
gatal-gatal)
Wildah:
“Kenapa, Dew? Coba sini aku lihat.”(kemudian
wildah mendekati Dewi dan memeriksa kulitnya) “Kamu ada pegang ulat?
Sepertinya kamu terkena alergi ulat bulu. Aku punya penangkalnya. Mam, tolong
ambilkan kunyit dan garam di ranselku.”
(Imam pun
segera mengambil Kunyit dan garam dari ransel wildah lalu memberikan kepada
wildah. Dengan cekatan wildah mengambil kunyit, dan membelahnya menjadi dua
bagian. Kemudian, dia memasukkan sisi kunyit yang baru dibelahnya ke dalam
bungkusan garam hingga semua permukaan tertutup garam. Lalu, degan perlahan
menggosokkannya ke kulit Dewi yang bentol karena ulat bulu.)
Wildah:
“Gimana, Dew?”
Dewi: “Meski
bentolnya belum hilang, tapi gatalnya udah hilang qok. Thanks ya.”
Wildah: “Iya,
sama-sama. Ayo kita kembali ke jalan awal. Aku yakin, ketika kita sampai di
titik temu tepat dimana kita salah memilih arah, kita akan menemukan arah yang
sebenarnya. Kita tetap berpegang pada peta ini. Karena menurutku, bukan petanya
yang salah, tapi kita aja yang sedikit teledor.”
Bayu: “Iya,
aku setuju. Imam dan Dika sebaiknya berdampingan di baris pertama. Jadi kalian
bisa menunjukkan arah dengan benar. Dewi dan Wildah juga berdampingan di baris
kedua, Ya. Aku akan mengisi baris ketiga di belakang kalian.”
Dewi: “Aku
juga setuju. Ayo tunggu apa lagi? Hari semakin gelap. Rasanya belukar dan cuaca
tak bersahabat dengan kita.”
(mereka berbalik
arah menyusuri jalan awal. Kali ini Imam dan Dika bekerja dengan teliti karena
merekalah yang bertanggung jawab soal arah kali ini. Sementara Bayu bertugas
sebagai penjaga di belakang. Berkat kerja sama dan kesabaran mereka, mereka
dapat menemukan titik terang arah tersebut. Arah yang mereka cari selama dalam
perjalanan. secercah sinar mentari yang tiba-tiba saja mampu menerobos belukar
nan lebat seolah menuntun mereka dalam kegelapan menuju tempat yang terang
benderang. Setelah mereka menemukan jalur yang sebenarnya, mereka melihat
pelatih mereka yang kelihatan sangat cemas menoleh kesana-kemari sambil
memanggil nama mereka)
Imam:
“Kakak…!”
Kak Hidayat:
(menoleh ke arah sumber suara) “Alhamdulillah!
Imam, Dika, Dewi, Wilda, dan Bayu. Kemana saja kalian? Kenapa hilang dari
jalur?”
Dika: “Maaf,
kak. Karena dika, kita semua jadi tersesat.”
Kak Hidayat:
“Iya, gak apa-apa. Keselamatan kalian adalah tanggung jawab kakak. Lain kali,
jangan teledor lagi ya, Dika. Kakak cari-cari dari tadi gak kelihatan. Kan kakak
jadi khawatir. Ada yang terluka?”
Imam: “Kami
baik-baik aja kak. Tadi si Dewi sedikit ada gangguan, tapi udah di handle ama
Wildah.”
Kak Hidayat:
“Syukurlah kalau begitu. Ayo sekarang kita berkumpul dengan teman-teman yang
lain. Mereka juga dari tadi mengkhawatirkan kalian.”
(sambil berjalan, mereka bertanya-tanya kepada
pelatihnya.)
Bayu: “Kak,
kenapa kakak khawatir?”
Kak Hidayat:
“Ya jelas donk. Kalian kan adik-adik kakak. Selain itu sebagai anggota Pramuka
kita juga harus bertanggung jawab. Ingat kan Dasa Dharma ke-9, bertanggung
jawab dan dapat di percaya. Kalian berada di bawah tanggung jawab kakak kepada
orang tua kalian.”
Imam: “Owgh
gitu ya kak. Aku fikir, tanggung jawabnya hanya di kawasan sekolah saja.”
Kak Hidayat:
“ya enggak lah. Bertanggung jawab, harus di lakukan kapan saja dan dimana saja
serta kepada siapa saja. Kita juga harus bertanggung jawab terhadap diri
sendiri.”
Dika: “Diri
sendiri, maksudnya?”
Kak Hidayat:
“maksudnya, kita harus memikirkan diri kita juga. Karena diri kita juga butuh
perhatian. Contoh gampangnya, ketika kita membawa air minum ke sekolah, berarti
kita tidak akan membiarkan diri kita tersiksa karena kehausan.”
Dewi: “Tadi
wildah ada bawa penangkal yang berbeda dengan penangkal secara medis. Kenapa
wildah kepikiran membawa kunyit?”
Wildah:
“Karena kulitku sensitif, Wi. Nah biasanya, kalau kulitku sudah gatal, kalau
enggak ku gosokkan bawang putih, ya ku gosokkan kunyit dan garam.”
Kak Hidayat:
“Nah, tepat sekali. Ini salah satu cara bertanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Dika: “Jadi
kak, kalau lebih mementingkan makan karena lapar ketimbang tersesat. Lebih baik
makan, kan kak? Itulah tadi kenapa kami tersesat. Abisnya dika lapar sih…”
Bayu, Dewi,
Wildah dan Imam: “Yeeeee… itu mah bertanggung jawab terhadap diri sendiri tapi
gak bertanggung jawab atas kami.”
Dika: (senyum kecut pun terkembang di bibirnya)
(Setelah
mereka keluar dari hutan itu dan bertemu dengan jalan raya, mereka semua
menghempaskan tubuh mereka ke rumput yang ada di dekat jalan itu. Mereka
berkicau dengan fikiran mereka sendiri memandang ke langit lepas sambil
memikirkan bagaimana mereka mampu menerapkan rasa tanggung jawab tersebut.
Lalu, Kak Hidayat bangkit. Semua bangkit, saling pandang dan tersenyum
sepertinya mereka mempunyai jawaban sendiri untuk menerapkan tanggung jawab
mereka masing-masing. Terlebih bagaimana menyeimbangkankan tanggung jawab
mereka di Pramuka, Sekolah, dan di rumah.).


0 komentar:
Posting Komentar