Bertanggung Jawab

by 21.31 0 komentar

(Terlihat sekelompok anak Pramuka, yang dengan menggunakan pakaian lengkapnya mereka seperti Pramuka Penggalang. Ada yang menikmati makanannya, ada yang sibuk membolak-balik peta, ada yang bersandar sambil bersantai ria, dan  ada yang celingukan kesana dan kemari. Ntah apa yang dicarinya. Arahkah?)
Dewi: “Waduh! Dimana kita ini?”
Bayu: (berdiri dari sandarannya) “Aku juga gak tahu, Wi. (Ucapnya pada dewi)
Dewi: “Kayaknya kita tersesat.”
Wildah: “Dari mana kamu tahu?”
Dewi: “Aku pernah menjalani rute yang seharusnya kita jalani. Tapi aku rasa ini bukan jalannya.”
Bayu: “Mam, gimana sih cara baca petanya? Masa’ kita tersesat gini?”
Imam: “Ya aku juga gak tahu, Bay. Emangnya Cuma aku yang pegang peta?”
Dewi: “Kan emang Cuma kamu, Mam.” (sambil melirik kearah Imam)
Imam: “Oh iya, sorry sorry. Tapi, mungkin ada yang salah dari peta kita. Kalau enggak, gak mungkin kita jadi tersesat begini. Atau mungkin, petunjuk arahnya yang salah?” (sambil melirik keatas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal layaknya orang berfikir)
Wildah: “Coba tanyakan ke Dika aja, Bay. Secara kan dia yang pegang kompasnya.”
Bayu: “Dik, kamu kan yang pegang kompas. Selain Imam yang menunjukkan arah, kamu juga berpengaruh. Kira-kira tadi kamu ada salah bidik, gak?”
Dika: “Hmm, sepertinya iya. Soalnya aku udah laper banget. Biasanya kalau aku laper, suka salah-salah gitu.” (ucapnya yang sedang makan dengan lahapnya)
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “Dikaaaaaaaaaa…”
Dika: “Saya. Gak usah pake teriak-teriak napa sih? Ini hutan loh. Ntar kalau ada yang ngerasa terganggu, gimana?”
Wildah: “Kita kesasar, Dik. Dan kamu bisa tenang seperti itu?”
Dika: “Apa??? Tersesat?” (teriaknya histeris) “Maaf ya teman-teman…”
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “iya”(jawab mereka singkat. Tiba-tiba…)
Dewi: “Sepertinya ada yang bermasalah dengan kulitku. Loh. Loh, kok jadi begini?” (sambil memeriksa kulitnya yang mulai gatal-gatal)
Wildah: “Kenapa, Dew? Coba sini aku lihat.”(kemudian wildah mendekati Dewi dan memeriksa kulitnya) “Kamu ada pegang ulat? Sepertinya kamu terkena alergi ulat bulu. Aku punya penangkalnya. Mam, tolong ambilkan kunyit dan garam di ranselku.”
(Imam pun segera mengambil Kunyit dan garam dari ransel wildah lalu memberikan kepada wildah. Dengan cekatan wildah mengambil kunyit, dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian, dia memasukkan sisi kunyit yang baru dibelahnya ke dalam bungkusan garam hingga semua permukaan tertutup garam. Lalu, degan perlahan menggosokkannya ke kulit Dewi yang bentol karena ulat bulu.)
Wildah: “Gimana, Dew?”
Dewi: “Meski bentolnya belum hilang, tapi gatalnya udah hilang qok. Thanks ya.”
Wildah: “Iya, sama-sama. Ayo kita kembali ke jalan awal. Aku yakin, ketika kita sampai di titik temu tepat dimana kita salah memilih arah, kita akan menemukan arah yang sebenarnya. Kita tetap berpegang pada peta ini. Karena menurutku, bukan petanya yang salah, tapi kita aja yang sedikit teledor.”
Bayu: “Iya, aku setuju. Imam dan Dika sebaiknya berdampingan di baris pertama. Jadi kalian bisa menunjukkan arah dengan benar. Dewi dan Wildah juga berdampingan di baris kedua, Ya. Aku akan mengisi baris ketiga di belakang kalian.”
Dewi: “Aku juga setuju. Ayo tunggu apa lagi? Hari semakin gelap. Rasanya belukar dan cuaca tak bersahabat dengan kita.”
(mereka berbalik arah menyusuri jalan awal. Kali ini Imam dan Dika bekerja dengan teliti karena merekalah yang bertanggung jawab soal arah kali ini. Sementara Bayu bertugas sebagai penjaga di belakang. Berkat kerja sama dan kesabaran mereka, mereka dapat menemukan titik terang arah tersebut. Arah yang mereka cari selama dalam perjalanan. secercah sinar mentari yang tiba-tiba saja mampu menerobos belukar nan lebat seolah menuntun mereka dalam kegelapan menuju tempat yang terang benderang. Setelah mereka menemukan jalur yang sebenarnya, mereka melihat pelatih mereka yang kelihatan sangat cemas menoleh kesana-kemari sambil memanggil nama mereka)
Imam: “Kakak…!”
Kak Hidayat: (menoleh ke arah sumber suara) “Alhamdulillah! Imam, Dika, Dewi, Wilda, dan Bayu. Kemana saja kalian? Kenapa hilang dari jalur?”
Dika: “Maaf, kak. Karena dika, kita semua jadi tersesat.”
Kak Hidayat: “Iya, gak apa-apa. Keselamatan kalian adalah tanggung jawab kakak. Lain kali, jangan teledor lagi ya, Dika. Kakak cari-cari dari tadi gak kelihatan. Kan kakak jadi khawatir. Ada yang terluka?”
Imam: “Kami baik-baik aja kak. Tadi si Dewi sedikit ada gangguan, tapi udah di handle ama Wildah.”
Kak Hidayat: “Syukurlah kalau begitu. Ayo sekarang kita berkumpul dengan teman-teman yang lain. Mereka juga dari tadi mengkhawatirkan kalian.”
(sambil berjalan, mereka bertanya-tanya kepada pelatihnya.)
Bayu: “Kak, kenapa kakak khawatir?”
Kak Hidayat: “Ya jelas donk. Kalian kan adik-adik kakak. Selain itu sebagai anggota Pramuka kita juga harus bertanggung jawab. Ingat kan Dasa Dharma ke-9, bertanggung jawab dan dapat di percaya. Kalian berada di bawah tanggung jawab kakak kepada orang tua kalian.”
Imam: “Owgh gitu ya kak. Aku fikir, tanggung jawabnya hanya di kawasan sekolah saja.”
Kak Hidayat: “ya enggak lah. Bertanggung jawab, harus di lakukan kapan saja dan dimana saja serta kepada siapa saja. Kita juga harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Dika: “Diri sendiri, maksudnya?”
Kak Hidayat: “maksudnya, kita harus memikirkan diri kita juga. Karena diri kita juga butuh perhatian. Contoh gampangnya, ketika kita membawa air minum ke sekolah, berarti kita tidak akan membiarkan diri kita tersiksa karena kehausan.”
Dewi: “Tadi wildah ada bawa penangkal yang berbeda dengan penangkal secara medis. Kenapa wildah kepikiran membawa kunyit?”
Wildah: “Karena kulitku sensitif, Wi. Nah biasanya, kalau kulitku sudah gatal, kalau enggak ku gosokkan bawang putih, ya ku gosokkan kunyit dan garam.”
Kak Hidayat: “Nah, tepat sekali. Ini salah satu cara bertanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Dika: “Jadi kak, kalau lebih mementingkan makan karena lapar ketimbang tersesat. Lebih baik makan, kan kak? Itulah tadi kenapa kami tersesat. Abisnya dika lapar sih…”
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “Yeeeee… itu mah bertanggung jawab terhadap diri sendiri tapi gak bertanggung jawab atas kami.”
Dika: (senyum kecut pun terkembang di bibirnya)
(Setelah mereka keluar dari hutan itu dan bertemu dengan jalan raya, mereka semua menghempaskan tubuh mereka ke rumput yang ada di dekat jalan itu. Mereka berkicau dengan fikiran mereka sendiri memandang ke langit lepas sambil memikirkan bagaimana mereka mampu menerapkan rasa tanggung jawab tersebut. Lalu, Kak Hidayat bangkit. Semua bangkit, saling pandang dan tersenyum sepertinya mereka mempunyai jawaban sendiri untuk menerapkan tanggung jawab mereka masing-masing. Terlebih bagaimana menyeimbangkankan tanggung jawab mereka di Pramuka, Sekolah, dan di rumah.).

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar