Tirai Kasih Yang Terkoyak #1

by 21.38 0 komentar


Kisah apa ini? Entah. Apa makna hidup? Entah. Mengapa hidup itu banyak pilihan? Entah. Begitu banyak pertanyaan yang berlari-lari mengitari kepalanya, dan dia pun gak tahu apa jawabannya. Medan yang panas membuat dia semakin meringis. Belum lagi hidup dan segala pernak-perniknya yang semakin membuatnya pusing tujuh keliling.
“Sendirian, ken?”
“Berdua.”
“Sama siapa?”
“Notebook. Hehehehe.”
Kini, banyak orang menganggap dia itu adalah orang yang gak peduli dengan keadaan sekitar. Dia lebih suka menyendiri. Yah, paling-paling dia mojoknya ama notebook kesayangannya itu.
“Kok sendiri, kak ken?”
“Iya dik, sendiri itu tenang.”
Yuph, ken si gadis yang menyukai ketenangan. Ken adalah gadis berusia 20 tahun. Dia lebih suka duduk menyendiri di suatu ruangan atau di bawah pohon rindang. Jika dia berada di keramaian, dia mampu menciptakan suasana sendiri itu dan hanya terpaku pada benda petak hitam yang bernama notebook.
Dulu ken adalah gadis periang, dia suka bercanda dengan teman-temannya. Dia bukanlah orang yang apatis seperti ini. Entah apa yang ,menyebabkan dia berubah begini. Menjadi pendiam, dan bahkan menjadi sosok misterius yang suasana hatinya itu gak bisa ditebak.
***
“Kepalaku sakit loh.” Ucap ken pada inun kala itu.
Inun hanya memandang ke arah ken tanpa berkomentar.
“Hari minggu aku akan pergi.” Ucap ken lagi.
Tapi tetap saja inun gak memberikan respon apapun. Ken pun terdiam, dia merasa gak ada gunanya dia memulai pembicaraan. Padahal dia sedang berusaha untuk mencairkan kebekuan yang hampir terjadi pada mereka. Ken mengirim pesan pada faith melalui facebook.
L. Ken mengirimkan stiker.” Demikian agaknya pesan yang dikirimkan ken pada temannya itu. Ken berharap faith akan merespon pesannya. Namun yang sangat disayangkan, faith gak membalas pesan ken. Padahal ken tahu, kalau faith sangat sering on line.
Ken sangat murung, dia sedang dilanda krisis kepedulian. Belakangan ini, ken merasa kalau teman-temannya gak mempedulikannya. Mungkin ini salah satu sebab dia berubah. Karena perubahannya yang gak disadari oleh teman-temannya, ini membuat dia semakin masuk dalam dunianya sendiri, apatis. Dia lebih suka ‘pacaran’ dengan kata-kata bersama notebooknya. Dia bebas melakukan apapun bersama barangnya itu. Dia terbang ke dunia maya, masuk dalam dunia literasi, dan masih banyak dunia-dunia lain yang mampu ia ciptakan selain dunia yang fana ini.
Bukan dia tidak memiliki teman atau kenalan. Dia turut bergabung dalam suatu organisasi kampus. Dia juga tergabung dalam organisasi kampung. Namun, tetap saja dia tidak memiliki sahabat. Dia sendiri saja gak ngerti. Siapa yang salah? Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang tetap menggelinding ria di kepalanya.
Malam ini disinari oleh purnama yang sebentar lagi menuju klimaksnya. Di bawah sinar rembulan yang benderang, dia melihat bayangannya sendiri.
“Bayangan itu selalu menyerupai bentuk tubuhku. Dia selalu menyertaiku, dalam segala aktivitasku. Namun, dia ada jika ada cahaya.” Fikir ken. “Ah, andai saja bulan malam ini gak sedang purnama. Mungkin bayangan pun enggan mendekatiku. Dia membiarkan aku sendiri dalam kegelapan.” Lanjutnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
“Hai ken.” Sapa orang itu.
“Hai juga. Kamu siapa? Dari mana tahu namaku?” Tanya ken seolah detektif.
“Kenalin. Namaku, Muzanni. Panggil aja aku Muza. Kalau nama lengkapmu siapa?”
“Owgh. Aku Ken. Hanya ken.”
“Nama yang singkat.”
“Iya, sesingkat kehidupan ini muz.”
“Kenapa gitu ken?”
“Iya, hidup kita sesinggkat waktu seperti adzan dan sholat. Kita lahir diadzankan, dan ketika kita meninggal kita akan disholatkan.”
“Dia memang sangat misterius. Aku gak nyangka dia bakal ngomong gitu. Padahal citra dia di mata temen-temen itu adalah orang yang apatis.” Ungkap muza dalam hati.
“Kamu ngapain di sini, ken?” Tanya muza.
“Menanti.”
“Menanti apa?”
“Menanti bulan purnama yang sempurna.”
“Kenapa?”
“Karena purnama mampu membuatku tenang dan semakin bersyukur kepada Allah atas apa-apa yang telah dianugrahkan-Nya padaku. Jika aku melihat purnama setiap bulan, itu tandanya aku masih mampu menghitung hari. Kamu sendiri, ngapain di sini?”
“Lho, inikan taman. Ini tempat umum, jadi wajar donk kalau siapa aja yang datang kesini.”
“Iya, wajar.” Ucap ken singkat.
“Kamu suka ke sini?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Biasanya enggak. Dulu aku sering ke sini bersama orang-orang yang kusayangi.”
“Terus orang-orang itu kemana?”
“Gak tahu mereka pada kemana.”
“Lho kok gitu?”
Ken memandang mata muza sangat dalam. Mata ken berkaca-kaca, “Kamu gak bakal paham.” Ucapnya seiring dengan setetes air bening yang membasahi wajahnya. Namun, segera ken membersihkan air itu. Ken langsung pergi meninggalkan muza dalam ketidakpahamannya itu.
Ken berlari pulang. Dalam pelariannya itu dia selalu teringat wajah orang-orang yang selalu bersamanya di taman. Tangisan yang dibendungnya tadi kini membludak. Langit yang semula cerah turut membuktikan kepada ken kalau dia juga sedih. Hujan pun turun, namun ken tetap berlari. Padahal dia tahu, bahwa dia gak tahan berlari terlalu lama.
“Kita bakal jadi 5 sekawan, Kan? Ucap ken.
“Iya dong ken. Kita berlima bakal sama-sama terus. Ini aku udah buat list tempat yang bakal kita kunjungi bareng-bareng.” Anis menyodorkan buku kecilnya itu.
“Kenapa kita selalu ke taman setiap pertengahan bulan dalam islam?” Tanya ken.
“Iya, biar bisa menikmati purnama bareng. Gimana teman-teman?” ungkap anis.
“Good idea.” Riani menimpali.
“Aku sih setuju-setuju aja.” Mei menyetujui.
“Dimana kalian sekarang?” jerit ken di tengah hujan. “Kemana semuanya?” dia menangis sesunggukan. “Kenapa kini tak ada satu pun yang mempedulikanku? Aku marah!!! Aku kecewa!!! Kemana? Disaat aku membutuhkan kalian, semuanya menghilang…” ken pun terjatuh karena sudah tak mampu berlari lagi. Dia terduduk diam membisu…
“Ayolah ken kita makan bareng.” Ajak inun.
“Aku gak ada uang loh. kalo ada, aku pasti ikut. Aku juga udah izin gak ikut rapat hari ini.”
“Ish kan, ayolah ken.”
“Aku bener-bener gak ada uang. Kapan-kapan aja kita makan barengnya. Oce?”
“Kenapa kalo untuk organisasimu itu kamu selalu ada. Sementara ini?” sanggah anis.
“Tolong jangan bandingkan kalian dengan organisasiku. Aku bener gak ada uang. Bukan karena aku gak mau.” Jawab ken kala itu.
“Salahkah hamba ya Allah?” Tanya ken dalam hati. Masih dalam keadaan terduduk di tengah hujan. “Mungkin memang aku yang salah” fikir ken.
“Lho, kenapa kamu duduk ditengah hujan begini, ken?” Tanya muza.
“Kamu? Kenapa bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku ya.”
“iya ken.” Jawab muza dalam hati. “Enggak ah. Ih kamu kegeeran.” Jawab muza pada ken. “Sudah ayo bangun. Kamu kenapa nangis di tengah hujan? Itu tanda-tanda orang yang penakut.”
Ken memalingkan wajahnya pada muza.

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar