Kisah apa ini? Entah. Apa
makna hidup? Entah. Mengapa hidup itu banyak pilihan? Entah. Begitu banyak
pertanyaan yang berlari-lari mengitari kepalanya, dan dia pun gak tahu apa
jawabannya. Medan yang panas membuat dia semakin meringis. Belum lagi hidup dan
segala pernak-perniknya yang semakin membuatnya pusing tujuh keliling.
“Sendirian, ken?”
“Berdua.”
“Sama siapa?”
“Notebook. Hehehehe.”
Kini, banyak orang menganggap
dia itu adalah orang yang gak peduli dengan keadaan sekitar. Dia lebih suka
menyendiri. Yah, paling-paling dia mojoknya ama notebook kesayangannya itu.
“Kok sendiri, kak ken?”
“Iya dik, sendiri itu
tenang.”
Yuph, ken si gadis yang
menyukai ketenangan. Ken adalah gadis berusia 20 tahun. Dia lebih suka duduk
menyendiri di suatu ruangan atau di bawah pohon rindang. Jika dia berada di
keramaian, dia mampu menciptakan suasana sendiri itu dan hanya terpaku pada
benda petak hitam yang bernama notebook.
Dulu ken adalah gadis
periang, dia suka bercanda dengan teman-temannya. Dia bukanlah orang yang
apatis seperti ini. Entah apa yang ,menyebabkan dia berubah begini. Menjadi
pendiam, dan bahkan menjadi sosok misterius yang suasana hatinya itu gak bisa
ditebak.
***
“Kepalaku sakit loh.” Ucap
ken pada inun kala itu.
Inun hanya memandang ke arah
ken tanpa berkomentar.
“Hari minggu aku akan
pergi.” Ucap ken lagi.
Tapi tetap saja inun gak
memberikan respon apapun. Ken pun terdiam, dia merasa gak ada gunanya dia
memulai pembicaraan. Padahal dia sedang berusaha untuk mencairkan kebekuan yang
hampir terjadi pada mereka. Ken mengirim pesan pada faith melalui facebook.
“L. Ken mengirimkan stiker.”
Demikian agaknya pesan yang dikirimkan ken pada temannya itu. Ken berharap
faith akan merespon pesannya. Namun yang sangat disayangkan, faith gak membalas
pesan ken. Padahal ken tahu, kalau faith sangat sering on line.
Ken sangat murung, dia
sedang dilanda krisis kepedulian. Belakangan ini, ken merasa kalau
teman-temannya gak mempedulikannya. Mungkin ini salah satu sebab dia berubah.
Karena perubahannya yang gak disadari oleh teman-temannya, ini membuat dia
semakin masuk dalam dunianya sendiri, apatis. Dia lebih suka ‘pacaran’ dengan
kata-kata bersama notebooknya. Dia bebas melakukan apapun bersama barangnya
itu. Dia terbang ke dunia maya, masuk dalam dunia literasi, dan masih banyak
dunia-dunia lain yang mampu ia ciptakan selain dunia yang fana ini.
Bukan dia tidak memiliki
teman atau kenalan. Dia turut bergabung dalam suatu organisasi kampus. Dia juga
tergabung dalam organisasi kampung. Namun, tetap saja dia tidak memiliki
sahabat. Dia sendiri saja gak ngerti. Siapa yang salah? Hanya pertanyaan demi
pertanyaan yang tetap menggelinding ria di kepalanya.
Malam ini disinari oleh
purnama yang sebentar lagi menuju klimaksnya. Di bawah sinar rembulan yang
benderang, dia melihat bayangannya sendiri.
“Bayangan itu selalu
menyerupai bentuk tubuhku. Dia selalu menyertaiku, dalam segala aktivitasku.
Namun, dia ada jika ada cahaya.” Fikir ken. “Ah, andai saja bulan malam ini gak
sedang purnama. Mungkin bayangan pun enggan mendekatiku. Dia membiarkan aku
sendiri dalam kegelapan.” Lanjutnya. Tiba-tiba ada seseorang yang
menghampirinya.
“Hai ken.” Sapa orang itu.
“Hai juga. Kamu siapa? Dari
mana tahu namaku?” Tanya ken seolah detektif.
“Kenalin. Namaku, Muzanni. Panggil
aja aku Muza. Kalau nama lengkapmu siapa?”
“Owgh. Aku Ken. Hanya ken.”
“Nama yang singkat.”
“Iya, sesingkat kehidupan
ini muz.”
“Kenapa gitu ken?”
“Iya, hidup kita sesinggkat
waktu seperti adzan dan sholat. Kita lahir diadzankan, dan ketika kita meninggal
kita akan disholatkan.”
“Dia memang sangat
misterius. Aku gak nyangka dia bakal ngomong gitu. Padahal citra dia di mata
temen-temen itu adalah orang yang apatis.” Ungkap muza dalam hati.
“Kamu ngapain di sini, ken?”
Tanya muza.
“Menanti.”
“Menanti apa?”
“Menanti bulan purnama yang
sempurna.”
“Kenapa?”
“Karena purnama mampu
membuatku tenang dan semakin bersyukur kepada Allah atas apa-apa yang telah
dianugrahkan-Nya padaku. Jika aku melihat purnama setiap bulan, itu tandanya
aku masih mampu menghitung hari. Kamu sendiri, ngapain di sini?”
“Lho, inikan taman. Ini
tempat umum, jadi wajar donk kalau siapa aja yang datang kesini.”
“Iya, wajar.” Ucap ken
singkat.
“Kamu suka ke sini?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Biasanya enggak. Dulu aku
sering ke sini bersama orang-orang yang kusayangi.”
“Terus orang-orang itu
kemana?”
“Gak tahu mereka pada
kemana.”
“Lho kok gitu?”
Ken memandang mata muza
sangat dalam. Mata ken berkaca-kaca, “Kamu gak bakal paham.” Ucapnya seiring
dengan setetes air bening yang membasahi wajahnya. Namun, segera ken
membersihkan air itu. Ken langsung pergi meninggalkan muza dalam
ketidakpahamannya itu.
Ken berlari pulang. Dalam
pelariannya itu dia selalu teringat wajah orang-orang yang selalu bersamanya di
taman. Tangisan yang dibendungnya tadi kini membludak. Langit yang semula cerah
turut membuktikan kepada ken kalau dia juga sedih. Hujan pun turun, namun ken
tetap berlari. Padahal dia tahu, bahwa dia gak tahan berlari terlalu lama.
“Kita bakal jadi 5 sekawan,
Kan? Ucap ken.
“Iya dong ken. Kita berlima
bakal sama-sama terus. Ini aku udah buat list tempat yang bakal kita kunjungi
bareng-bareng.” Anis menyodorkan buku kecilnya itu.
“Kenapa kita selalu ke taman
setiap pertengahan bulan dalam islam?” Tanya ken.
“Iya, biar bisa menikmati
purnama bareng. Gimana teman-teman?” ungkap anis.
“Good idea.” Riani
menimpali.
“Aku sih setuju-setuju aja.”
Mei menyetujui.
“Dimana kalian sekarang?”
jerit ken di tengah hujan. “Kemana semuanya?” dia menangis sesunggukan. “Kenapa
kini tak ada satu pun yang mempedulikanku? Aku marah!!! Aku kecewa!!! Kemana?
Disaat aku membutuhkan kalian, semuanya menghilang…” ken pun terjatuh karena
sudah tak mampu berlari lagi. Dia terduduk diam membisu…
“Ayolah ken kita makan
bareng.” Ajak inun.
“Aku gak ada uang loh. kalo
ada, aku pasti ikut. Aku juga udah izin gak ikut rapat hari ini.”
“Ish kan, ayolah ken.”
“Aku bener-bener gak ada
uang. Kapan-kapan aja kita makan barengnya. Oce?”
“Kenapa kalo untuk
organisasimu itu kamu selalu ada. Sementara ini?” sanggah anis.
“Tolong jangan bandingkan
kalian dengan organisasiku. Aku bener gak ada uang. Bukan karena aku gak mau.”
Jawab ken kala itu.
“Salahkah hamba ya Allah?”
Tanya ken dalam hati. Masih dalam keadaan terduduk di tengah hujan. “Mungkin
memang aku yang salah” fikir ken.
“Lho, kenapa kamu duduk
ditengah hujan begini, ken?” Tanya muza.
“Kamu? Kenapa bisa ada di
sini? Kamu mengikuti aku ya.”
“iya ken.” Jawab muza dalam
hati. “Enggak ah. Ih kamu kegeeran.” Jawab muza pada ken. “Sudah ayo bangun.
Kamu kenapa nangis di tengah hujan? Itu tanda-tanda orang yang penakut.”
Ken memalingkan wajahnya
pada muza.


0 komentar:
Posting Komentar