Tirai Kasih Yang Terkoyak #5

by 22.15 0 komentar


“Ken, Buk.” Jawab ken.
Ibu pun membukakan pintu untuk ken. Ekspresi ibu sangat tidak seperti biasanya. Beliau diam. Ken gak tahan melihat perubahan itu. Ken bingung harus bagaimana menghadapi kasus ini. Kembali lagi fikirannya harus berfikir ekstra tanpa tau apa yang harus difikirkannya. Ah! Sudahlah fikirnya. Dia memutuskan untuk mengerjakan semua kewajibannya dan langsung masuk kamar. Dia terlelap di kamarnya. Beberapa lama kemudian, ken tersentak bangun karena pintu kamarnya dibuka oleh ribu.
“Bisa minta tolong, Ken?”
“Apa ribu?”
“pergi dulu ke kedai.”
“Iya ribu.” Ken pun pergi ke kedai untuk membeli sesuatu.
Sepulangnya dari kedai, ribu meminta kami berkumpul. Tapi ken tetap saja tidak tenang, ken merasa segan karena kesalahannya. Ah si ken… setelah ribu pulang, ken memberanikan diri untuk minta maaf atas semua yang terjadi.
“Ken minta maaf, buk.”
“Iya, sudah ibu maafkan. Sekali lagi, kalau mau tidur di sekolah minta izin aja langsung. Jangan pakai sms. Rumah kita kan dekat dari sekolah. Apa susahnya pulang untuk minta izin dulu. Lagian, untuk tidur di sekolah kan harus ada persiapan. Seperti jaket, selimut, atau kaus kaki. Kemarin kan ken Cuma pakai jaket. Kalau terjadi apa-apa, gimana?”
“Iya buk.” Hanya inilah yang bisa dijawab ken.
“Jadi, boleh ken tidur di sekolah selama LDK ini aja?” pinta ken.
“Iya boleh.” Jawab ibu.
“Terima kasih, buk.”
Akhirnya ken mendapat izin untuk mengikuti acara tersebut. Seneng banget rasanya, hehehe. Hari ini hari ketiga acara LDK. Dengan hati riang gembira ken datang lagi ke sekolah. Dia ditunjuk sebagai moderator di acara penutupan gelombang pertama. Setelah itu, peserta pada gelombang pertama pulang. Tinggalah panitia dan guru yang berbuka bersama. Setelah berbuka bersama, seperti biasa ken dan teman-temannya mencuci piring dan membereskan semuanya. Sekitar pukul 8 malam ken pulang.
Keesokan harinya, ken bangun terlambat. Lagi-lagi ken menambah masalah. Hmmm…
“Pokoknya, kalo ken belum selesai menyapu, mengepel, dan mencuci piring, ken tidak boleh ke sekolah. Paham?” ucap ibu.
“Iya buk.” Kata ken.
“Aduh, aku pembawa acara pembukaan pada gelombang kedua.” Fikir ken. Dia mengerjakan semuanya dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Setelah selesai,
“Udah selesai?”
“Udah, buk. Ken mau siap-siap kesekolah dulu.”
“Iya, ntar pake baju ini ya.”
Sepasang gamis berwarna ungu itu kini ada didepan mata. “Buat ken, Buk?”
“Iya, pakailah.”
“Makasih ya buk.”
“Iya.”
Hmm, ken sangat bahagia. Ibu terlalu menyayanginya. Padahal masalah demi masalah dibuatnya. Setelah dia berberes-beres, dia meminta izin untuk pergi ke sekolah dengan gamis yang dikenakannya. Ibu memandangnya dan tersenyum.
Sesampainya disekolah, temen-temennya tersenyum-senyum melihat penampilan dengan gamis baru pemberian ibu tersebut.
“Cie cie baju baru dia.”
“hehehe iya, ibu yang kasih.”
Kegiatan disekolah berlangsung dengan lancar. Sekitar pukul 16.00 WIB, dia dan temannya, si sinta, diminta untuk membantu salah satu guru yang bertugas untuk menyiapkan menu berbuka puasa. Ken pergi dari sekolah menuju ke rumah guru tersebut. Sangking asyiknya menyiapkan makanan, mereka lupa waktu. Cuaca yang buruk pun datang dan mengepung mereka di rumah dan tak bisa kemana-mana.
Hujan yang deras mengguyur kota kecil ini. Setelah hujan benar-benar reda, ken dan sinta melakukan perjalanan kembali ke sekolah. Di tengah perjalanan, ereka melihat suasana kota yang sedikit berantakan karena hempasa hujan dan angin yang kencang. Mereka pun sampai di sekolah. Mereka segera menyiapkan makanan berbuka yang telah mereka bawa ke tempat-tempatnya. Buka puasa telah tiba, namun cuaca masih saja buruk, hujan plus listrik padam.
Ibu gak datang keacara buka puasa bersama di sekolah. Mungkin karena cuacanya buruk. Setelah selesai sholat maghrib, ken memutuskan untuk pulang.
“Aku pulang, ya.” Kata ken pada teman-temannya.
“Nanti balik lagi, kan?” Tanya salah satu temannya.
“Iya. Aku kan piket hari ini. Jadi, ya aku emang harus tidur sini lah.”
“Okelah ken. Hati-hati ya.”
“iya”
Ken berjalan dalam kegelapan malam. Tak berapa lama, sampailah ken di depan rumah.
“Assalamu’alaikum, Ibu…” ucap ken.
“Wa alaikum salam. Siapa?
“Ken, buk.”
Ibu membuka pintu dan mempersilahkan ken masuk.
“Ken, kalo gak berani tidur di kamar atas, ken tidurnya di kamar depan aja ya.”
“Iya, buk. Tapi ken sudah janji dengan mereka kalo mau tidur di sekolah.”
“Sekarang ibu Tanya. Ken tinggal sama ibu atau sama mereka? Terserahlah.” Kata ibu tegas waktu itu.
Bersambung…

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar