“Iya buk. Maaf.” Ucapnya
pelan kala itu. Ken sebenernya belum mengerti dengan kata-kata ibu barusan.
Apakah salah jika Ken memilih untuk istirahat sebentar sebelum menyuci piring
dan menyapu? Ken gak mempermasalahkan kecerewetan seseorang karena mamaknya
adalah wanita yang super (cerewetnya). Terus, apa sebenarnya pemicu ibu ngomong
gitu? Dari tahun 2011 hingga sekarang untuk permasalahan yang 1 ini Ken gak
tahu. Tapi yang pasti, Ken memilih untuk tetap tinggal kala itu. Yah seperti
yang dinasihatkan Aisyah, Ken gak boleh egois. Ken harus berfikir bagaimana
keadaan mamaknya. Ken semakin mengurungkan niatnya untuk bilang ke ibu kalo Ken
demam. Yang hebatnya, demamnya kambuh kalau Ken benar-benar sudah merasa nyaman
dan aman. Kalau Ken sedang berada di luar kamar, Ken seperti orang sehat. Tidak
terlihat sedikitpun tanda-tanda kedemaman itu. Ken menikmati hal ini. Tak
apalah fikirnya, yang penting hubungan yang mereka jalin tetap baik.
Benarlah adanya. hubungan
Mereka semakin lama semakin membaik. Bulan pertama, kedua, ketiga, Mereka lalui
bersama. Dengan canda tawa dan rasa senang. Rasanya hidup ini tanpa beban. Ken
senang, Ken punya keluarga dan mendapatkan kasih sayang. Tapi agaknya, salah
memang sudah menjadi hal yang tidak lepas dari manusia. Jadi gini, waktu itu
sekolah Mereka ngadain Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Karena nama Ken
tercantum sebagai salah seorang anggota dari OSIS, yaudah kebetulan ini juga
agenda terakhir OSIS yah mau gak mau Ken harus turut serta untuk menyemarakkan
acara ini.
Mereka tidur di sekolah
selama seminggu dan sudah ditentukan jadwal piketnya. Ken piket di gelombang 2
hari kamis. Karena kebetulan ini bulan Ramadhan, jadi persiapan untuk sahur dan
berbuka puasa harus benar-benar pas. Hari pertama, buka puasa bersama yang
pertama. Ken pergi dari rumah bersama-sama dengan ibu dan anak-anak. Sebagai
panitia, Ken harus langsung lari ke dapur untuk membantu mempersiapkan
semuanya. Setelah sholat maghrib Ken membantu mencuci piring dan kemudian
mempersiapkan makan malam sebelum sholat isya. Kemudian membantu mencuci piring
lagi. Ketika membantu mencuci piring, Ken sudah tidak menemukan ibu. Temennya
bilang kalau ibu sudah pulang. Ken belum minta izin untuk tidur di sekolah malam
ini. Ken pun mengambil hapenya dan mengetik pesan,
“Assalamu’alaikum, buk. Ken
minta izin terlambat pulang, soalnya ini belum selesai tugasnya.” Begitulah
kira-kira pesan yang dia kirim.
Belum ada balasan dari ibu. Dia
ketik pesan lagi, “Buk, Ken minta izin tidur di sekolah yah buk. Sekalian untuk
membantu mempersiapkan makan sahur besok pagi.” Begituah bunyi pesan yang
kedua. Tiba-tiba temannya si Irma bertanya,
“Ngapain, Ken?”
“Ngirim sms ke ibu kalo aku
tidur di sekolah.” Jawabnya.
“Aduh, Ken. Ibu gak suka
kalo pake sms gitu Ken. Udahlah, pulang aja dirimu. Ntar malah bermasalah.”
Saran Irma.
“Iya ma? Aku gak tahulah…
yaudah aku pulang ya ma.” Mungkin Irma ada benernya, biar bagai manapun, ibu
adalah wali kelasnya Irma. Jadi sedikit banyaknya Irma lebih mengerti akan hal
ini.
Sesampainya di rumah, Ken
berusaha membuka pintu dengan kunci duplikat yang dia pegang. Ternyata tidak
bisa. Dia pencet bel rumah, dia ketuk, dan sambil berucap, “Assalamu’alaikum.
Ibu…” teriaknya.
Tetap tidak ada jawaban. Dia
menunggu di depan rumah. Duduk, berdiri, mondar-mandir, itulah yang dilakukan
hingga jema’ah sholat tarawih selesai melaksanakan ritual sholatnya. Karena tak
kunjung dibukakan pintu ataupun sahutan. Dia memutuskan untuk mengirim sms
lagi,
“Buk, ken udah di depan
rumah.” Begitulah kira-kira.
Tapi tetap tak kunjung ada
kabar. Dia berniat untuk tetap menunggu di depan rumah hingga besok pagi.
“Besok pagi kan ibu bakal buka pintu.” Fikirnya. Tapi, dia berfikir ulang dan
akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Teman-teman heran melihat
kedatangan ken. Dia pergi ke dapur umum dan duduk di sana.
“Loh, kok balik lagi ken?”
Tanya salah seorang guru, pak Anto.
“Iya pak, pintunya gak bisa
dibuka.” Jawab Ken.
“Tapi megang kunci
duplikat.”
“Iya pak, tapi gak bisa. Mungkin
kunci yang dari dalam enggak diambil. Maksudnya tetap tergantung di pintu, jadi
kunci yang ken pegang gak bisa masuk untuk membuka.” Jawab ken.
“Udah dipanggil ibunya?”
“Udah pak, tapi gk ada
jawabannya.”
“Yaudahlah, tidur di sekolah
aja.”
Ken pun tidur di sekolah
tepatnya di ruang panitia dengan beberapa panitia lainnya. Hamper tengah malam
menjelang, ken belum juga mampu untuk memejamkan matanya.dia pun keluar dari
ruangan itu dan berjalan ke arah dapur. Ternyata masih banyak orang yang belum
tidur. Baik itu dari panitia atau guru. Ken ikut bergabung bersama mereka.
Mereka berbincang-bincang sambil menikmati teh hangat yang telah tersaji.
Ternyata ada yang memperhatikan mereka, yaitu beberapa orang dari pemateri LDK
itu sendiri.
Terjadi perdebatan singkat
waktu itu. Dimana, pemateri tidak setuju dengan adanya perkumpulan itu. Tapi,
karena mereka berkumpul juga gak ngapa-ngapain yah pasti panitia juga gak
terima dengan sikap si pemateri yang terlalu mengurusi kegiatan panitia.
“Enggak, masak peserta
tidurnya kita bedakan antara lelaki dan perempuan. Tapi kok panitia malah
berkumpul antara lelaki dan perempuan? Apa lagi ini sudah malam.” Ungkap salah
seorang pemateri.
“Kami kan gak tidur bareng.
Kami juga di pisahin tidurnya. Lagian kami di dapur juga Cuma ngobrol.” Tangkis
salah seorang panitia.
“Ya tapi kan gak enak kalo
ada peserta yang lihat. Kita ini dalam rangka pesantren kilat (sanlat)” Si
pemateri berceloteh lagi.
“Aduh, maaf yah bang. Acara
kita bukan acara sanlat. Perlu abang pahami, tugas abang sebagai pemateri
disini. Kalo abang Tanya ke kami, kenapa kami masih berkumpul dan bergabung
antara lelaki dan perempuan itu hak kami donk. Entah ada yang harus kami bahas.
Karena kami panitia, jadi kami harus berfikir extra untuk acara ini. Sementara
abang? Kenapa masih berkeliaran di luar padahal ini sudah tengah malam? Apalagi
abang juga bersama temen perempuan abang.”
“Kami kan ngecek peserta.”
“Sudah ada panitia yang
mengurus hal itu bang. Jadi sebaiknya, abang istirahat di tempat yang sudah
kami sediakan. Siapkan diri abang serta siapkan materi yang akan disampaikan
esok hari.”
Perdebatan itu pun selesai
dengan cara yang tidak baik. Ken yang sedikit gemeteran karena kaget melihat
hal itu seketika menjatuhkan handphone yang di genggamnya. Dengan wajah lesu
dia menarik nafas seperti orang kelelahan setelah berlari. Teman-temannya
memandang ke arah ken.
“Kenapa ken?” Tanya yesi.
“Takut yes.”
“Takut apa?”
“Takut kalo kalian tadi
bakal bertengkar hebat.”
“Ya ampun ken. Tadi kan Cuma
adu mulut aja. Enggak apa-apa kok.”
“Iya, tetap aja shock yes.”
“Hm,,, katanya kuat. Masak
gitu aja udah keok?”
“Is apa sih?”
Setelah berbincang-bincang,
malam semakin larut. Mereka tidur pada tempatnya. Dapur sunyi, fajar
menyingsing. Waktu sahur tiba. Panitia kembali sibuk memasak untuk makan sahur
seluruh peserta, pemateri, beserta panitia dan lain-lain.
“Makan yang banyak ken.”
Kata pak Anto.
“Iya pak.”
Mungkin pak anto tahu kalo
temen-temen ken bertanya-tanya kenapa ken disuruh makan banyak. Tanpa ditanya
pun pak anto menjelaskan, “Ken harus makan banyak. Hari ini dia harus bekerja
ekstra. Dia bertugas di dua tempat. Di sekolah dan di rumah.”
Ken tersenyum mendengar
penuturan pak anto. Ken merasa lebih diperhatikan. Ken gak tahu, gimana
perasaan temen-temennya yang lain. Karena yang makan sahur di dapur itu banyak
sekali. Setelah semua selesai, makan sahur, sholat shubuh dan membereskan
semuanya. Ken memutuskan untuk pulang. Dia berjalan menuju rumah dengan hati
yang gak karuan. Sesampainya di depan rumah, dia mengetuk pintu dan,
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alikum salam. Siapa?”
sahut dari dalam.
Bersambung…


0 komentar:
Posting Komentar