Tirai Kasih Yang Terkoyak #4

by 22.07 0 komentar


“Iya buk. Maaf.” Ucapnya pelan kala itu. Ken sebenernya belum mengerti dengan kata-kata ibu barusan. Apakah salah jika Ken memilih untuk istirahat sebentar sebelum menyuci piring dan menyapu? Ken gak mempermasalahkan kecerewetan seseorang karena mamaknya adalah wanita yang super (cerewetnya). Terus, apa sebenarnya pemicu ibu ngomong gitu? Dari tahun 2011 hingga sekarang untuk permasalahan yang 1 ini Ken gak tahu. Tapi yang pasti, Ken memilih untuk tetap tinggal kala itu. Yah seperti yang dinasihatkan Aisyah, Ken gak boleh egois. Ken harus berfikir bagaimana keadaan mamaknya. Ken semakin mengurungkan niatnya untuk bilang ke ibu kalo Ken demam. Yang hebatnya, demamnya kambuh kalau Ken benar-benar sudah merasa nyaman dan aman. Kalau Ken sedang berada di luar kamar, Ken seperti orang sehat. Tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda kedemaman itu. Ken menikmati hal ini. Tak apalah fikirnya, yang penting hubungan yang mereka jalin tetap baik.
Benarlah adanya. hubungan Mereka semakin lama semakin membaik. Bulan pertama, kedua, ketiga, Mereka lalui bersama. Dengan canda tawa dan rasa senang. Rasanya hidup ini tanpa beban. Ken senang, Ken punya keluarga dan mendapatkan kasih sayang. Tapi agaknya, salah memang sudah menjadi hal yang tidak lepas dari manusia. Jadi gini, waktu itu sekolah Mereka ngadain Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Karena nama Ken tercantum sebagai salah seorang anggota dari OSIS, yaudah kebetulan ini juga agenda terakhir OSIS yah mau gak mau Ken harus turut serta untuk menyemarakkan acara ini.
Mereka tidur di sekolah selama seminggu dan sudah ditentukan jadwal piketnya. Ken piket di gelombang 2 hari kamis. Karena kebetulan ini bulan Ramadhan, jadi persiapan untuk sahur dan berbuka puasa harus benar-benar pas. Hari pertama, buka puasa bersama yang pertama. Ken pergi dari rumah bersama-sama dengan ibu dan anak-anak. Sebagai panitia, Ken harus langsung lari ke dapur untuk membantu mempersiapkan semuanya. Setelah sholat maghrib Ken membantu mencuci piring dan kemudian mempersiapkan makan malam sebelum sholat isya. Kemudian membantu mencuci piring lagi. Ketika membantu mencuci piring, Ken sudah tidak menemukan ibu. Temennya bilang kalau ibu sudah pulang. Ken belum minta izin untuk tidur di sekolah malam ini. Ken pun mengambil hapenya dan mengetik pesan,
“Assalamu’alaikum, buk. Ken minta izin terlambat pulang, soalnya ini belum selesai tugasnya.” Begitulah kira-kira pesan yang dia kirim.
Belum ada balasan dari ibu. Dia ketik pesan lagi, “Buk, Ken minta izin tidur di sekolah yah buk. Sekalian untuk membantu mempersiapkan makan sahur besok pagi.” Begituah bunyi pesan yang kedua. Tiba-tiba temannya si Irma bertanya,
“Ngapain, Ken?”
“Ngirim sms ke ibu kalo aku tidur di sekolah.” Jawabnya.
“Aduh, Ken. Ibu gak suka kalo pake sms gitu Ken. Udahlah, pulang aja dirimu. Ntar malah bermasalah.” Saran Irma.
“Iya ma? Aku gak tahulah… yaudah aku pulang ya ma.” Mungkin Irma ada benernya, biar bagai manapun, ibu adalah wali kelasnya Irma. Jadi sedikit banyaknya Irma lebih mengerti akan hal ini.
Sesampainya di rumah, Ken berusaha membuka pintu dengan kunci duplikat yang dia pegang. Ternyata tidak bisa. Dia pencet bel rumah, dia ketuk, dan sambil berucap, “Assalamu’alaikum. Ibu…” teriaknya.
Tetap tidak ada jawaban. Dia menunggu di depan rumah. Duduk, berdiri, mondar-mandir, itulah yang dilakukan hingga jema’ah sholat tarawih selesai melaksanakan ritual sholatnya. Karena tak kunjung dibukakan pintu ataupun sahutan. Dia memutuskan untuk mengirim sms lagi,
“Buk, ken udah di depan rumah.” Begitulah kira-kira.
Tapi tetap tak kunjung ada kabar. Dia berniat untuk tetap menunggu di depan rumah hingga besok pagi. “Besok pagi kan ibu bakal buka pintu.” Fikirnya. Tapi, dia berfikir ulang dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Teman-teman heran melihat kedatangan ken. Dia pergi ke dapur umum dan duduk di sana.
“Loh, kok balik lagi ken?” Tanya salah seorang guru, pak Anto.
“Iya pak, pintunya gak bisa dibuka.” Jawab Ken.
“Tapi megang kunci duplikat.”
“Iya pak, tapi gak bisa. Mungkin kunci yang dari dalam enggak diambil. Maksudnya tetap tergantung di pintu, jadi kunci yang ken pegang gak bisa masuk untuk membuka.” Jawab ken.
“Udah dipanggil ibunya?”
“Udah pak, tapi gk ada jawabannya.”
“Yaudahlah, tidur di sekolah aja.”
Ken pun tidur di sekolah tepatnya di ruang panitia dengan beberapa panitia lainnya. Hamper tengah malam menjelang, ken belum juga mampu untuk memejamkan matanya.dia pun keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah dapur. Ternyata masih banyak orang yang belum tidur. Baik itu dari panitia atau guru. Ken ikut bergabung bersama mereka. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati teh hangat yang telah tersaji. Ternyata ada yang memperhatikan mereka, yaitu beberapa orang dari pemateri LDK itu sendiri.
Terjadi perdebatan singkat waktu itu. Dimana, pemateri tidak setuju dengan adanya perkumpulan itu. Tapi, karena mereka berkumpul juga gak ngapa-ngapain yah pasti panitia juga gak terima dengan sikap si pemateri yang terlalu mengurusi kegiatan panitia.
“Enggak, masak peserta tidurnya kita bedakan antara lelaki dan perempuan. Tapi kok panitia malah berkumpul antara lelaki dan perempuan? Apa lagi ini sudah malam.” Ungkap salah seorang pemateri.
“Kami kan gak tidur bareng. Kami juga di pisahin tidurnya. Lagian kami di dapur juga Cuma ngobrol.” Tangkis salah seorang panitia.
“Ya tapi kan gak enak kalo ada peserta yang lihat. Kita ini dalam rangka pesantren kilat (sanlat)” Si pemateri berceloteh lagi.
“Aduh, maaf yah bang. Acara kita bukan acara sanlat. Perlu abang pahami, tugas abang sebagai pemateri disini. Kalo abang Tanya ke kami, kenapa kami masih berkumpul dan bergabung antara lelaki dan perempuan itu hak kami donk. Entah ada yang harus kami bahas. Karena kami panitia, jadi kami harus berfikir extra untuk acara ini. Sementara abang? Kenapa masih berkeliaran di luar padahal ini sudah tengah malam? Apalagi abang juga bersama temen perempuan abang.”
“Kami kan ngecek peserta.”
“Sudah ada panitia yang mengurus hal itu bang. Jadi sebaiknya, abang istirahat di tempat yang sudah kami sediakan. Siapkan diri abang serta siapkan materi yang akan disampaikan esok hari.”
Perdebatan itu pun selesai dengan cara yang tidak baik. Ken yang sedikit gemeteran karena kaget melihat hal itu seketika menjatuhkan handphone yang di genggamnya. Dengan wajah lesu dia menarik nafas seperti orang kelelahan setelah berlari. Teman-temannya memandang ke arah ken.
“Kenapa ken?” Tanya yesi.
“Takut yes.”
“Takut apa?”
“Takut kalo kalian tadi bakal bertengkar hebat.”
“Ya ampun ken. Tadi kan Cuma adu mulut aja. Enggak apa-apa kok.”
“Iya, tetap aja shock yes.”
“Hm,,, katanya kuat. Masak gitu aja udah keok?”
“Is apa sih?”
Setelah berbincang-bincang, malam semakin larut. Mereka tidur pada tempatnya. Dapur sunyi, fajar menyingsing. Waktu sahur tiba. Panitia kembali sibuk memasak untuk makan sahur seluruh peserta, pemateri, beserta panitia dan lain-lain.
“Makan yang banyak ken.” Kata pak Anto.
“Iya pak.”
Mungkin pak anto tahu kalo temen-temen ken bertanya-tanya kenapa ken disuruh makan banyak. Tanpa ditanya pun pak anto menjelaskan, “Ken harus makan banyak. Hari ini dia harus bekerja ekstra. Dia bertugas di dua tempat. Di sekolah dan di rumah.”
Ken tersenyum mendengar penuturan pak anto. Ken merasa lebih diperhatikan. Ken gak tahu, gimana perasaan temen-temennya yang lain. Karena yang makan sahur di dapur itu banyak sekali. Setelah semua selesai, makan sahur, sholat shubuh dan membereskan semuanya. Ken memutuskan untuk pulang. Dia berjalan menuju rumah dengan hati yang gak karuan. Sesampainya di depan rumah, dia mengetuk pintu dan, “Assalamu’alaikum.”
“Wa alikum salam. Siapa?” sahut dari dalam.
Bersambung…

Desi Ratna Sari

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar