Allah menciptakan malam sebagai pakaian bagi kita
Allah menciptakan siang untuk mencari penghidupan
Oleh karenanya
Kukirim sehelai sejadah
Untukmu bersujud kepada-Nya

Sejadah cintaku
Akan membawamu dalam kehangatan di tengah dinginnya malam kelam
Menyejukkan di kala terik mentari menyengat
Dan menentramkan jiwa yang gundah

Sejadah cintaku
Kan memberimu sejuta harapan bersama Sang Kholiq
Bercerita dan bercinta dalam buaian Rahman-Nya

Tahukah kamu?
Kumerindumu dalam setiap tetes air mataku
Karena kutahu, kita tak mungkin bersatu

Mencintaimu karena-Nya
Bak mencari mutiara ditengah lautan lepas
Aku mampu berusaha, namun tak mampu mendapatkannya
Karena mutiara itu tersimpan di dalam cangkang yang kuat
Begitulah aku, kamu, dan dia

(Terlihat sekelompok anak Pramuka, yang dengan menggunakan pakaian lengkapnya mereka seperti Pramuka Penggalang. Ada yang menikmati makanannya, ada yang sibuk membolak-balik peta, ada yang bersandar sambil bersantai ria, dan  ada yang celingukan kesana dan kemari. Ntah apa yang dicarinya. Arahkah?)
Dewi: “Waduh! Dimana kita ini?”
Bayu: (berdiri dari sandarannya) “Aku juga gak tahu, Wi. (Ucapnya pada dewi)
Dewi: “Kayaknya kita tersesat.”
Wildah: “Dari mana kamu tahu?”
Dewi: “Aku pernah menjalani rute yang seharusnya kita jalani. Tapi aku rasa ini bukan jalannya.”
Bayu: “Mam, gimana sih cara baca petanya? Masa’ kita tersesat gini?”
Imam: “Ya aku juga gak tahu, Bay. Emangnya Cuma aku yang pegang peta?”
Dewi: “Kan emang Cuma kamu, Mam.” (sambil melirik kearah Imam)
Imam: “Oh iya, sorry sorry. Tapi, mungkin ada yang salah dari peta kita. Kalau enggak, gak mungkin kita jadi tersesat begini. Atau mungkin, petunjuk arahnya yang salah?” (sambil melirik keatas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal layaknya orang berfikir)
Wildah: “Coba tanyakan ke Dika aja, Bay. Secara kan dia yang pegang kompasnya.”
Bayu: “Dik, kamu kan yang pegang kompas. Selain Imam yang menunjukkan arah, kamu juga berpengaruh. Kira-kira tadi kamu ada salah bidik, gak?”
Dika: “Hmm, sepertinya iya. Soalnya aku udah laper banget. Biasanya kalau aku laper, suka salah-salah gitu.” (ucapnya yang sedang makan dengan lahapnya)
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “Dikaaaaaaaaaa…”
Dika: “Saya. Gak usah pake teriak-teriak napa sih? Ini hutan loh. Ntar kalau ada yang ngerasa terganggu, gimana?”
Wildah: “Kita kesasar, Dik. Dan kamu bisa tenang seperti itu?”
Dika: “Apa??? Tersesat?” (teriaknya histeris) “Maaf ya teman-teman…”
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “iya”(jawab mereka singkat. Tiba-tiba…)
Dewi: “Sepertinya ada yang bermasalah dengan kulitku. Loh. Loh, kok jadi begini?” (sambil memeriksa kulitnya yang mulai gatal-gatal)
Wildah: “Kenapa, Dew? Coba sini aku lihat.”(kemudian wildah mendekati Dewi dan memeriksa kulitnya) “Kamu ada pegang ulat? Sepertinya kamu terkena alergi ulat bulu. Aku punya penangkalnya. Mam, tolong ambilkan kunyit dan garam di ranselku.”
(Imam pun segera mengambil Kunyit dan garam dari ransel wildah lalu memberikan kepada wildah. Dengan cekatan wildah mengambil kunyit, dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian, dia memasukkan sisi kunyit yang baru dibelahnya ke dalam bungkusan garam hingga semua permukaan tertutup garam. Lalu, degan perlahan menggosokkannya ke kulit Dewi yang bentol karena ulat bulu.)
Wildah: “Gimana, Dew?”
Dewi: “Meski bentolnya belum hilang, tapi gatalnya udah hilang qok. Thanks ya.”
Wildah: “Iya, sama-sama. Ayo kita kembali ke jalan awal. Aku yakin, ketika kita sampai di titik temu tepat dimana kita salah memilih arah, kita akan menemukan arah yang sebenarnya. Kita tetap berpegang pada peta ini. Karena menurutku, bukan petanya yang salah, tapi kita aja yang sedikit teledor.”
Bayu: “Iya, aku setuju. Imam dan Dika sebaiknya berdampingan di baris pertama. Jadi kalian bisa menunjukkan arah dengan benar. Dewi dan Wildah juga berdampingan di baris kedua, Ya. Aku akan mengisi baris ketiga di belakang kalian.”
Dewi: “Aku juga setuju. Ayo tunggu apa lagi? Hari semakin gelap. Rasanya belukar dan cuaca tak bersahabat dengan kita.”
(mereka berbalik arah menyusuri jalan awal. Kali ini Imam dan Dika bekerja dengan teliti karena merekalah yang bertanggung jawab soal arah kali ini. Sementara Bayu bertugas sebagai penjaga di belakang. Berkat kerja sama dan kesabaran mereka, mereka dapat menemukan titik terang arah tersebut. Arah yang mereka cari selama dalam perjalanan. secercah sinar mentari yang tiba-tiba saja mampu menerobos belukar nan lebat seolah menuntun mereka dalam kegelapan menuju tempat yang terang benderang. Setelah mereka menemukan jalur yang sebenarnya, mereka melihat pelatih mereka yang kelihatan sangat cemas menoleh kesana-kemari sambil memanggil nama mereka)
Imam: “Kakak…!”
Kak Hidayat: (menoleh ke arah sumber suara) “Alhamdulillah! Imam, Dika, Dewi, Wilda, dan Bayu. Kemana saja kalian? Kenapa hilang dari jalur?”
Dika: “Maaf, kak. Karena dika, kita semua jadi tersesat.”
Kak Hidayat: “Iya, gak apa-apa. Keselamatan kalian adalah tanggung jawab kakak. Lain kali, jangan teledor lagi ya, Dika. Kakak cari-cari dari tadi gak kelihatan. Kan kakak jadi khawatir. Ada yang terluka?”
Imam: “Kami baik-baik aja kak. Tadi si Dewi sedikit ada gangguan, tapi udah di handle ama Wildah.”
Kak Hidayat: “Syukurlah kalau begitu. Ayo sekarang kita berkumpul dengan teman-teman yang lain. Mereka juga dari tadi mengkhawatirkan kalian.”
(sambil berjalan, mereka bertanya-tanya kepada pelatihnya.)
Bayu: “Kak, kenapa kakak khawatir?”
Kak Hidayat: “Ya jelas donk. Kalian kan adik-adik kakak. Selain itu sebagai anggota Pramuka kita juga harus bertanggung jawab. Ingat kan Dasa Dharma ke-9, bertanggung jawab dan dapat di percaya. Kalian berada di bawah tanggung jawab kakak kepada orang tua kalian.”
Imam: “Owgh gitu ya kak. Aku fikir, tanggung jawabnya hanya di kawasan sekolah saja.”
Kak Hidayat: “ya enggak lah. Bertanggung jawab, harus di lakukan kapan saja dan dimana saja serta kepada siapa saja. Kita juga harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Dika: “Diri sendiri, maksudnya?”
Kak Hidayat: “maksudnya, kita harus memikirkan diri kita juga. Karena diri kita juga butuh perhatian. Contoh gampangnya, ketika kita membawa air minum ke sekolah, berarti kita tidak akan membiarkan diri kita tersiksa karena kehausan.”
Dewi: “Tadi wildah ada bawa penangkal yang berbeda dengan penangkal secara medis. Kenapa wildah kepikiran membawa kunyit?”
Wildah: “Karena kulitku sensitif, Wi. Nah biasanya, kalau kulitku sudah gatal, kalau enggak ku gosokkan bawang putih, ya ku gosokkan kunyit dan garam.”
Kak Hidayat: “Nah, tepat sekali. Ini salah satu cara bertanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Dika: “Jadi kak, kalau lebih mementingkan makan karena lapar ketimbang tersesat. Lebih baik makan, kan kak? Itulah tadi kenapa kami tersesat. Abisnya dika lapar sih…”
Bayu, Dewi, Wildah dan Imam: “Yeeeee… itu mah bertanggung jawab terhadap diri sendiri tapi gak bertanggung jawab atas kami.”
Dika: (senyum kecut pun terkembang di bibirnya)
(Setelah mereka keluar dari hutan itu dan bertemu dengan jalan raya, mereka semua menghempaskan tubuh mereka ke rumput yang ada di dekat jalan itu. Mereka berkicau dengan fikiran mereka sendiri memandang ke langit lepas sambil memikirkan bagaimana mereka mampu menerapkan rasa tanggung jawab tersebut. Lalu, Kak Hidayat bangkit. Semua bangkit, saling pandang dan tersenyum sepertinya mereka mempunyai jawaban sendiri untuk menerapkan tanggung jawab mereka masing-masing. Terlebih bagaimana menyeimbangkankan tanggung jawab mereka di Pramuka, Sekolah, dan di rumah.).

Mobil melaju standart dari arah Medan menuju Aceh Tamiang, perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Aku tetap saja tertidur dengan nyenyak, seperti biasanya. Aku memang sering tidur di kendaraan, termasuk di angkot ketika aku akan pergi ke kampus. Sepertinya tidur di kendaraan itu sudah menjadi kebiasaanku, rasanya kalo’ udah di dalam kendaraan dan mendapatkan posisi wenak, gak ada kesibukan lain yang kulakukan selain tidur. Zzzz…
“Tiiit tiiit tiiit, jengglong.” Begitulah kira-kira suara yang kudengar sehingga aku tersadar dari tidurku. Aku memandang keluar jendela. Ada kantor polisi, dan ternyata aku sudah sampai di terminal kuala simpang.
“Pinggir, Pak” ucapku.
Kukeluarkan isi dompetku dan membayar ongkos dengan ATM, ternyata harus dengan uang tunai. Yah apa boleh buat, kukeluarkan lagi uang seharga 5 ribuan sebanyak 6 lembar. Uang telah diterima oleh pak supir, dan aku segera turun. Aku berjalan menuju tempat dimana mobil tujuan Tenggulun biasanya mangkal.
“Mau kemana, Dik?” Tanya seorang lelaki setengah baya.
“Ke Tenggulun.” Jawabku.
“Waduh, mobilnya baru aja berangkat. Adik udah ketinggalan.”
“Yah, kira-kira ada gak ya mobil trip ke-2?”
“Sepertinya tidak ada.”
“Yaudah, trimakasih ya, Bg.”
Aku kembali kearah jalan raya dan berniat mencari tempat peristirahatan yang aman. Aku memilih musholah depan terminal untuk tempatku istirahat. Angin di aceh berhembus sepoi-sepoi membuatku melayang kealam bawah sadar dan melihat suatu rekaman peristiwa masa lalu…
***
Di sini, di tempat ini aku merasakan sesuatu. Ketika hadirnya masih menghiasi hariku, senyumnya membuatku bahagia, dan amarahnya yang mengekangku dalam kedamaian.
“Ayah…” hanya kata itu yang terlirih dari bibirku.
Ingatkah? Ketika bersama dulu? Ingatkah ketika kita bermain bersama? Melangkahkan kaki pada tujuan bersama. Penuh keceriaan, canda tawa dan senda gurau tiada henti. Mampukah aku mengulang waktu? Merasakan hal yang sama saat ini? Mungkinkah…? Aku gak tau apa yang sedang direncanakan oleh-Nya. Tapi yang pasti, sebagai hamba yang hanya mampu menjalani semua tanpa memberontak aku pun menjalani semuanya hingga kini. Meski pertanyaan datang bertubi-tubi menghimpit dada sesak terasa, menguras air mata yang telah kering, aku tetap berusaha untuk tegar. Menopang semuanya diatas pundak yang tak lagi kokoh, berfikir positif walau tidak lagi rasional. Akankah terulang? Sepertinya tidak.
Aku menutup mataku, seolah tak mau lagi melihat apapun, melihat sketsa-sketsa masa lalu yang mampu mengundang kegalauan, hm no more galau…
Kuambil handphone yang sejak tadi mengurung diri di dalam tas. Aku berniat mengirim sms kepada sepupuku, Santo.
“San, aku di terminal kuala simpang nech.”
“Naik damri aja.” Balasnya.
“Udah ketinggalan, dan gak ada trip ke-2”
“Yaudah, naik kendaraan arah ke Pulo Tiga, nanti kamu turunnya di simpang Pulo Tiga aja biar aku yang jemput.”
“Okelah”.
Aku kembali lagi ke terminal namun untuk mencari kendaraan yang berbeda. Setelah kutemui kendaraan yang dimaksud, aku segera masuk ke dalam dan duduk tenang di sana. Kendaraan melaju awalnya dengan perlahan, namun kemudian kelajuannya bertambah. Beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti di Seumadam. Aku melihat keluar jendela. Ada sebuah warung di sana. Rasanya sketsa-sketsa cerah bersama ayah selalu membayangiku, membuat hatiku teriris miris tapi tidak mampu kutemukan. Apakah ayah ingat? Mungkinkah ayah di sana mengingat aku di sini? Aku hanya wanita cilik yang tidak tau menau masalah itu, membaca fikiran orang dihadapanku saja aku tak mampu. Konon lagi orang yang tidak kuketahui keberadaannya.
Sejak aku kelas VII, aku mulai kehilangan kasih kedua orang tuaku. Mulanya dari ibuku, karena ibuku pergi merantau. Lalu, ayahku menyusul. Setelah aku menamatkan sekolah menengah pertamaku, ibuku kembali padaku. Akan tetapi ayah enggak. Ayah pergi bagai layangan yang putus benangnya. Tak tau lagi kemana perginya…
Aku pun pergi bersama ibuku meninggalkan tanah kelahiranku ini, Aceh Tamiang. Tempatku dulu bermanja dan mendapat kasih sayang penuh oleh keduanya. Aku pergi menuju ke Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Karo, Kecamatan Kabanjahe. Aku melanjutkan sekolah SLTA di MAN Kabanjahe. Dan lagi-lagi aku harus menamatkan sekolahku tanpa ayah. Huft,,, sudahlah menyesal pun tiada guna. Menangis juga tak akan merubah semuanya.
***
“Simpang depan, pinggir ya Bang.” Pintaku pada sang supir. Tanpa pikir panjang, abang supir menghentikan kendaraan yang sedang di kendarainya. Aku segera turun setelah membayarkan ongkosnya. Kuperhatikan sekitar simpang 3 ini, mencari sepupuku si Santo. Kudapati dia diatas tunggangannya, sebuah Honda berwarna merah. Dia mengenakan kaos panjang berwarna biru donker dan celana training berwarna selaras dengan kaosnya. Helm hitam di kepalanya tidak membuatku keliru dalam hal menandainya. Aku melambaikan tangan, dan dia membalasnya. Aku berlari menuju ke arahnya dan segera mengambil posisi. Dia menyalakan mesin hondanya dan membuat kendaraan ini kembali bergerak membawa kami ke tempat tujuan sesungguhnya.
“Rat, nanti kita ke Kampung Selamat dulu, ya?” ucapnya mengawali pembicaraan.
“Ya, bolehlah.”
Benar sesuai rencana, kami pergi ke Kampung Selamat karena ada acara Grass Track. Setelah puas melihat acara tersebut, kami mampir ke sungai untuk membersihkan lumpur yang menempel di kaki, dan tempat lain. Kemudian, kami pun pulang dengan membawa perasaan masing-masing.
“Kamu sebelumnya pernah ke kampung ini”
“Seingatku, belum San.” Jawabku.
“Masak sih kamu lupa. Aku, kamu, dan ayahmu kan pernah datang ke sini.”
“Bukannya waktu itu, kita ke Gunung Pandan ya?”
“Iya, ini kan jalan arah ke sana.”
“Masak sih? Aku gak tahu.”
“Itulah, makanya ku kasih tahu.” Katanya lagi.
“Iya iya”, jawabku singkat.
Memang rasanya sangat sungguh tidak bijaksana jika aku hanya mengingat kesalahan ayah yang meninggalkan aku dan keluarga. Tapi, mungkin akan lebih lengkap jika aku tetap mengenangnya sebagai sosok yang pernah berarti dalam hidupku…
Ingatkah ayah padaku? Pedulikah pada hidupku kini? Aku tak tau pasti, tapi akan tetap kuyakini bahwa ayah pasti mengingatku. Hal ini kulakukan untuk meminimalisir rasa sakit hati yang selalu kupendam sendiri.