“Apa maksudmu?”
“hm gak ada maksud apa-apa. Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Jelek tau!!!”
“Apa urusannya sama kamu?”
“Yeee, di bilangin ngeyel.” Ucap muza kesal.
Mereka berdua kembali berjalan kearah rumah masing-masing. Muza dengan kekesalannya, dan ken dengan kesedihannya. Ingatan ken kembali terngiang-ngiang tentang hubungan manisnya bersama teman-temannya sewaktu ulang tahunnya. Waktu itu, temannya rela pulang malam hanya karena ingin memberinya kejutan dan merayakan ulang tahunnya. Mereka berlima sangat bahagia. Mungkin perasaan teman yang seperti sahabat sudah menggeluti fikiran mereka. Tak peduli seberapa lelahnya mereka menghadapi hari itu. Sungguh, mereka benar-benar melupakan kesedihan mereka masing-masing. Sekali lagi ken terisak-isak karena sekarang dia sudah merasa tidak dipedulikan.
Keesokan harinya, ken masuk kelas dengan sejuta rasa. Dia melihat keempat temannya yang masih saja dingin. Ken diam. Dia gak tau apa yang harus dilakukannya. Biasanya setiap dia masuk kelas, ada saja ulah temannya yang mampu membahagiakannya. Tapi kali ini tidak. Teman-temannya sibuk dengan urusan masing-masing. Ken duduk diposisi paling belakang. Suatu tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Dia melakukan itu karena dia ingin tenang dengan kesendiriannya dibelakang. Mungkin, dari sinilah keapatisannya itu muncul.
Dia tidak lagi aktif di kelas. Dia hanya masuk, duduk, diam, dan pulang. Ironisnya, sama sekali tidak ada yang memahami keadaannya. Tidak ada yang menanyakan bagaimana suasana hatinya, gelutan fikirannya, perubahan sikapnya, atau sekedar berbasa-basi menanyakan tugas padanya. Dia bermain nafsi-nafsi, tugas kelompok dikerjakannya sendiri, demikian juga tugas individunya. Sungguh, keadaan yang sangat memilukan hatinya.
***
“Kamu kenapa, Ken?” Tanya Muza.
Ken merasa muzalah orang yang bertanya akan hal itu kepadanya. Awalnya dia tidak merespon pertanyaan muza, tapi pintarnya muza bersilat lidah akhirnya ken pun luluh dan bercerita semuanya. Sakit hatinya, keadaan hidupnya, dan semua hal-hal yang membuatnya seperti ini. Muza sangat mengerti apa yang tengah dialami oleh ken. Krisis kepedulian, kiranya itulah yang terfikir oleh muza.
Sejak ada muza, ken merasa hari-harinya tidak sepi. Muza mempedulikan ken, hingga akhirnya ken masuk dalam buaian kasih muza. Entah apa yang terjadi pada ken. Ken merasa ada sesuatu yang berbeda. Perbedaaan itu sangat signifikan. Gimana ini? Ken butuh muza.
Suatu hari, ken pergi mencari muza ke taman. Malam itu, malam bulan purnama. Ken berharap kalau muza berada di taman itu. Ken ingin mengatakan semua yang dirasakannya itu ke muza. Dia mencari dan mencari, matanya melirik kesana dan kemari, namun muza sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Ken duduk di tepi danau yang berada di sekitar taman itu. Tenangnya danau mampu memantulkan purnama dan terlihat begitu indah. Tiba-tiba mata ken tertuju pada bayangan manusia yang ada di danau tersebut. Ken melihat sepasang manusia dan ken mengenali pantulan itu. Dengan segera ken mengarahkan pandangannya kearah manusia asal si pantulan tersebut. Ken tak menyangka, mulut ken ternganga (tapi gak sampai ngences ya), mata ken pun terbelalak. Ken melihat muza. Harusnya ken bahagia, tapi bukan hanya muza yang dilihatnya, melaninkan mmuza seang bersama dengan salah seorang temannya, Anis.
Kaki ken seolah tertata rapi untu melangkahkan kaki mendekati mereka. Pendengaran ken semakin lama semakin menunjukkan kelebihannya. Ken bersebunya di balik pohon di dekat muza dan anis. Ken mendengarkan percakapan mereka.
“Akhir-akhir ini kamu sepertinya agak dekat dengan Ken.” Ungkap anis.
“Enggak ah, perasaan kamu aja kali.” Jawab muza.
“Beneran?”
“Iya, anisku sayang. Kamu cemburu ya?”
“Iya dunk. Aku kan pacar kamu. Siapa yang gak cemburu kalau pacarnya deket ama cewek lain?”
“Iya aku tau, dan aku juga gak bakal kelewatan kok J
Ken merasa sangat terpukul. Ken sangat tidak mengerti dengan apa yang menjadi latar belakang muza bertingkah seolah-olah peduli seperti itu. Ken sungguh tak mengerti. Ken terdiam dan terduduk. Otaknya sudah tak mampu lagi untuk memikirkan semuanya. Dia gak tau, apa yang seharusnya dia rasakan. Apakah sedih ataukah bahagia.
Setelah hilang lemasnya karena mendengar percakapan yang tidak seberapa itu, dia memutuskan untuk pulang. Fikirannya melayang jauh. Dan dia mengambil keputusan, lebih baik diam.



Kisah apa ini? Entah. Apa makna hidup? Entah. Mengapa hidup itu banyak pilihan? Entah. Begitu banyak pertanyaan yang berlari-lari mengitari kepalanya, dan dia pun gak tahu apa jawabannya. Medan yang panas membuat dia semakin meringis. Belum lagi hidup dan segala pernak-perniknya yang semakin membuatnya pusing tujuh keliling.
“Sendirian, ken?”
“Berdua.”
“Sama siapa?”
“Notebook. Hehehehe.”
Kini, banyak orang menganggap dia itu adalah orang yang gak peduli dengan keadaan sekitar. Dia lebih suka menyendiri. Yah, paling-paling dia mojoknya ama notebook kesayangannya itu.
“Kok sendiri, kak ken?”
“Iya dik, sendiri itu tenang.”
Yuph, ken si gadis yang menyukai ketenangan. Ken adalah gadis berusia 20 tahun. Dia lebih suka duduk menyendiri di suatu ruangan atau di bawah pohon rindang. Jika dia berada di keramaian, dia mampu menciptakan suasana sendiri itu dan hanya terpaku pada benda petak hitam yang bernama notebook.
Dulu ken adalah gadis periang, dia suka bercanda dengan teman-temannya. Dia bukanlah orang yang apatis seperti ini. Entah apa yang ,menyebabkan dia berubah begini. Menjadi pendiam, dan bahkan menjadi sosok misterius yang suasana hatinya itu gak bisa ditebak.
***
“Kepalaku sakit loh.” Ucap ken pada inun kala itu.
Inun hanya memandang ke arah ken tanpa berkomentar.
“Hari minggu aku akan pergi.” Ucap ken lagi.
Tapi tetap saja inun gak memberikan respon apapun. Ken pun terdiam, dia merasa gak ada gunanya dia memulai pembicaraan. Padahal dia sedang berusaha untuk mencairkan kebekuan yang hampir terjadi pada mereka. Ken mengirim pesan pada faith melalui facebook.
L. Ken mengirimkan stiker.” Demikian agaknya pesan yang dikirimkan ken pada temannya itu. Ken berharap faith akan merespon pesannya. Namun yang sangat disayangkan, faith gak membalas pesan ken. Padahal ken tahu, kalau faith sangat sering on line.
Ken sangat murung, dia sedang dilanda krisis kepedulian. Belakangan ini, ken merasa kalau teman-temannya gak mempedulikannya. Mungkin ini salah satu sebab dia berubah. Karena perubahannya yang gak disadari oleh teman-temannya, ini membuat dia semakin masuk dalam dunianya sendiri, apatis. Dia lebih suka ‘pacaran’ dengan kata-kata bersama notebooknya. Dia bebas melakukan apapun bersama barangnya itu. Dia terbang ke dunia maya, masuk dalam dunia literasi, dan masih banyak dunia-dunia lain yang mampu ia ciptakan selain dunia yang fana ini.
Bukan dia tidak memiliki teman atau kenalan. Dia turut bergabung dalam suatu organisasi kampus. Dia juga tergabung dalam organisasi kampung. Namun, tetap saja dia tidak memiliki sahabat. Dia sendiri saja gak ngerti. Siapa yang salah? Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang tetap menggelinding ria di kepalanya.
Malam ini disinari oleh purnama yang sebentar lagi menuju klimaksnya. Di bawah sinar rembulan yang benderang, dia melihat bayangannya sendiri.
“Bayangan itu selalu menyerupai bentuk tubuhku. Dia selalu menyertaiku, dalam segala aktivitasku. Namun, dia ada jika ada cahaya.” Fikir ken. “Ah, andai saja bulan malam ini gak sedang purnama. Mungkin bayangan pun enggan mendekatiku. Dia membiarkan aku sendiri dalam kegelapan.” Lanjutnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
“Hai ken.” Sapa orang itu.
“Hai juga. Kamu siapa? Dari mana tahu namaku?” Tanya ken seolah detektif.
“Kenalin. Namaku, Muzanni. Panggil aja aku Muza. Kalau nama lengkapmu siapa?”
“Owgh. Aku Ken. Hanya ken.”
“Nama yang singkat.”
“Iya, sesingkat kehidupan ini muz.”
“Kenapa gitu ken?”
“Iya, hidup kita sesinggkat waktu seperti adzan dan sholat. Kita lahir diadzankan, dan ketika kita meninggal kita akan disholatkan.”
“Dia memang sangat misterius. Aku gak nyangka dia bakal ngomong gitu. Padahal citra dia di mata temen-temen itu adalah orang yang apatis.” Ungkap muza dalam hati.
“Kamu ngapain di sini, ken?” Tanya muza.
“Menanti.”
“Menanti apa?”
“Menanti bulan purnama yang sempurna.”
“Kenapa?”
“Karena purnama mampu membuatku tenang dan semakin bersyukur kepada Allah atas apa-apa yang telah dianugrahkan-Nya padaku. Jika aku melihat purnama setiap bulan, itu tandanya aku masih mampu menghitung hari. Kamu sendiri, ngapain di sini?”
“Lho, inikan taman. Ini tempat umum, jadi wajar donk kalau siapa aja yang datang kesini.”
“Iya, wajar.” Ucap ken singkat.
“Kamu suka ke sini?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Biasanya enggak. Dulu aku sering ke sini bersama orang-orang yang kusayangi.”
“Terus orang-orang itu kemana?”
“Gak tahu mereka pada kemana.”
“Lho kok gitu?”
Ken memandang mata muza sangat dalam. Mata ken berkaca-kaca, “Kamu gak bakal paham.” Ucapnya seiring dengan setetes air bening yang membasahi wajahnya. Namun, segera ken membersihkan air itu. Ken langsung pergi meninggalkan muza dalam ketidakpahamannya itu.
Ken berlari pulang. Dalam pelariannya itu dia selalu teringat wajah orang-orang yang selalu bersamanya di taman. Tangisan yang dibendungnya tadi kini membludak. Langit yang semula cerah turut membuktikan kepada ken kalau dia juga sedih. Hujan pun turun, namun ken tetap berlari. Padahal dia tahu, bahwa dia gak tahan berlari terlalu lama.
“Kita bakal jadi 5 sekawan, Kan? Ucap ken.
“Iya dong ken. Kita berlima bakal sama-sama terus. Ini aku udah buat list tempat yang bakal kita kunjungi bareng-bareng.” Anis menyodorkan buku kecilnya itu.
“Kenapa kita selalu ke taman setiap pertengahan bulan dalam islam?” Tanya ken.
“Iya, biar bisa menikmati purnama bareng. Gimana teman-teman?” ungkap anis.
“Good idea.” Riani menimpali.
“Aku sih setuju-setuju aja.” Mei menyetujui.
“Dimana kalian sekarang?” jerit ken di tengah hujan. “Kemana semuanya?” dia menangis sesunggukan. “Kenapa kini tak ada satu pun yang mempedulikanku? Aku marah!!! Aku kecewa!!! Kemana? Disaat aku membutuhkan kalian, semuanya menghilang…” ken pun terjatuh karena sudah tak mampu berlari lagi. Dia terduduk diam membisu…
“Ayolah ken kita makan bareng.” Ajak inun.
“Aku gak ada uang loh. kalo ada, aku pasti ikut. Aku juga udah izin gak ikut rapat hari ini.”
“Ish kan, ayolah ken.”
“Aku bener-bener gak ada uang. Kapan-kapan aja kita makan barengnya. Oce?”
“Kenapa kalo untuk organisasimu itu kamu selalu ada. Sementara ini?” sanggah anis.
“Tolong jangan bandingkan kalian dengan organisasiku. Aku bener gak ada uang. Bukan karena aku gak mau.” Jawab ken kala itu.
“Salahkah hamba ya Allah?” Tanya ken dalam hati. Masih dalam keadaan terduduk di tengah hujan. “Mungkin memang aku yang salah” fikir ken.
“Lho, kenapa kamu duduk ditengah hujan begini, ken?” Tanya muza.
“Kamu? Kenapa bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku ya.”
“iya ken.” Jawab muza dalam hati. “Enggak ah. Ih kamu kegeeran.” Jawab muza pada ken. “Sudah ayo bangun. Kamu kenapa nangis di tengah hujan? Itu tanda-tanda orang yang penakut.”
Ken memalingkan wajahnya pada muza.


Adzan yang berkumandang dengan suara muadzin yang khas dari sebuah mesjid bernama Al-Hasanah menandakan waktu sholat maghrib tiba. Mesjid Al-hasanah yang merupakan salah satu mesjid di kecamatan Medan Polonia pun seketika dipenuhi oleh jama’ah yang mayoritasnya adalah anak-anak. Anak-anak sangat antusias melaksanakan sholat Maghrib karena setelah ini mereka akan mengerjakan rutinitas mereka yakni mengaji, mereka menyebutnya dengan Gemar Maghrib Mengaji yang artinya mereka mengaji setelah melaksanakan sholat Maghrib. Selain itu, mesjid ini juga merupakan sekretariat dari anak-anak Formal Hasanah, suatu organisasi yang di kelola oleh anak remaja di sekitar mesjid ini. Baik agenda rapat, pengajian, dan masih banyak acara dari Formal Hasanah dilakukan di mesjid ini.


Anak-anak yang sangat haus akan ilmu membaca Al-Qur’an segera memenuhi tempat mereka belajar. Bukhori adalah seorang ustadz yang akan mengajari mereka bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Sebelum belajar membaca Al-Qur’an, mereka akan belajar membaca Iqra’ yakni buku yang di dalamnya banyak tata cara membaca huruf-huruf hijaiyah satu per satu. Namun, mulai malam ini mesjid bukan hanya di isi oleh anak-anak mengaji saja melainkan untuk anak-anak les matematika. Dedek adalah guru les yang akan menuangkan ilmu matematikanya kepada anak-anak. Bukhori heran atas perubahan ini, padahal selama ini dialah yang berkuasa penuh atas anak-anak dan mesjid ini. Dedek ngerasa gak enak terhadap Bukhori dan ia takut kalau Bukhori akan tersinggung, tapi dia harus menggunakan mesjid ini karena rumahnya yang semula dekat mesjid sekarang sudah pindah dan jauh dari mesjid.

Akhirnya, mereka berjalan sesuai relnya. Bukhori dengan Iqra’nya dan Dedek dengan Matematikanya. Namun, karena whiteboard yang memang cuma satu dan timbal balik mereka pun harus beradu suara karena suara anak-anak mengaji dan anak-anak les tidak bisa terbendung hanya dengan menggunakan selembar whiteboard. Perseteruan dari kedua pihak pun terjadi, suasana jadi ricuh dan Dedek yang gak bisa denger ribut-ribut pun mengeluarkan emosinya. Adzan sholat Isya lah yang mampu meredam suara dan emosi mereka. Setelah sholat Isya selesai, Dedek dan Bukhori pun membicarakan masalah ini di Formal Hasanah karena kebetulan mereka merupakan anggota dari organisasi tersebut.

“Kenapa sih tiba-tiba qo’ ada les di mesjid? Anak-anak ngaji kan jadi gak bisa serius.” Ungkap Bukori.

“Rumahku kan jauh, Bang. Lagian Formal Hasanah dan BKM mesjid juga udah ngijinin qo. Coba abang fikirlah, kalo anak-anak les yang datang kerumahku kasihan, Bang. Ntar jauh kali mereka kesana. Abang ngertilah.” Sahut Dedek tak mau kalah.

“Iya, tapikan suasana jadi gak karuan, ada anak-anak yang bertengkar, ada yang bermain dan masih banyak lagi tingkah mereka. Yang ada gak ada satupun dari mereka yang fokus ngaji ataupun les.”

“Itu mah salah abang, kenapa abang gak bisa mengontrol anak-anak abang. Anak-anakku anak yang baik, biasanya mereka gak pernah bandel kayak gini, kalo gak karena anak-anak abang, anak-anakku gak mungkin buat keributan seperti tadi.”

“Loh, qo jadi nyalahkan abang, Dek? Harusnya dedek gak pake emosi tadi. Bukannya dedek yang selama ini ajarin ke kita semua untuk selalu bertindak dengan kepala dingin?”

“Aku pusing bang. Apalagi situasi dengan kericuhan seperti tadi.”

“Sudah cukup! Cukuplah anak-anak kalian yang berseteru. Jangan kalian pula yang jadi bertengkar. Harusnya kita sebagai remaja mesjid dapat menyelesaikan semua persoalan tanpa emosi. Bang Bukhori yang notabenenya sebagai pengajar ngaji memang berhak mempertanyakan keputusan ini, tapi Kak Dedek juga punya hak. Secara dia dapat izin dari Bapak Ketua BKM kita. Sebenernya ini hanya permasalahan biasa yang gak harus jadi perdebatan yang dapat mempermalukan kita sendiri. Aku yakin, Abang dan Kakak dapat berfikir jernih dalam menangani hal ini. kita sebagai insan yang berpengetahuan harusnya mampu menjaga nama baik mesjid kita khususnya formal hasanah karena biar bagaimanapun kalian berdua merupakan anggota dari organisasi ini.” Ucap Adri, sebagai ketua Formal Hasanah menengahi.

“Jadi, coba kita fikirkan bersama bagaimana cara untuk menyelesaikan semua ini. Gak mungkin kalau anak-anak les yang harus menempuh perjalanan ke rumah Kak Dedek yang cukup jauh. Kalau Kak Dedek harus berhenti mengajar les, aku gak setuju karena adik aku juga les sama Kak Dedek.” Dwi angkat bicara.

“Lantas, apakah situasi ini kita biarkan?” Tanya Wira.

“Gak bisa. Kalau dibiarkan, kericuhan akan terjadi dan kita akan menuai protes dari berbagai kalangan.” Tentang Bukhori.

“Sebenarnya mesjid kita ini gak kecil. Kan ada dua serambi, yang dekat jalan seperti biasa bisa di isi oleh anak mengaji dan yang dekat pintu masuk jama’ah perempuan bisa di isi oleh Kak Dedek dan anggotanya.” Jelas Wildah.

Whitaboardnya kan Cuma satu, Dik.” Jawab Bukhori pada Wildah.

“Kalo gak gini aja. Kita coba untuk membeli whiteboard yang satu lagi. Uang kas kita cukup kan Kak Dew?” tanya Adri pada Kak Dewi yang merupakan bendahara Formal Hasanah.

“Cukup sih sebenernya. Tapi kayaknya gak usah dulu deh. Kalo enggak gini aja, besok kita lihat perkembangannya. Bukhori dan Dedek kan udah sama-sama berpendidikan, masa’ sih gak bisa mendidik anak-anaknya masing-masing dan mengontrol mereka agar agak tenang selama pembelajaran?” ujar Kak Dewi.

“Yaudah! Kita lihat besok. Kalau hal ini terjadi lagi, akan kita bahas lagi. Aku berharap kita sama-sama bisa mengerti keadaan. Bagi yang punya adik harap memberitahu adiknya masing-masing untuk tidak membuat keributan. Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini.” Ucap Adri menutup pertemuan.

Pertemuan pun di tutup, malam yang larut pun turut membuat mereka larut dalam keletihan. Akan tetapi, lain halnya dengan Bukhori dan Dedek. Mereka berdua lelah namun sama-sama gelisah. Mereka tak mengerti kenapa bisa gelisah seperti itu.

“Apa aku terlalu kasar terhadap Dedek tadi ya” fikir Bukhori.

Bukhori pun segera mengambil handphone dan mulai mengetik sms, namun belum sempat ia menekan tombol sent, ada sms masuk.

“Hah? Dari Dedek? Ada apa ya?” tanyanya sambil membuka pesan itu.

“Aku minta maaf, Bang. Gak seharusnya kita menggunakan amarah atau emosi dalam hal ini. mungkin aku yang harus mengalah, Bang. Besok aku akan membicarakan pada Ketua BKM tentang hal ini. Aku tidak akan mengajar di Mesjid lagi. Aku ngerasa gak enak ama abang. Maaf ya bang.” Begitulah pesan dari Dedek.

Bukhori terdiam dalam hening, hanya suara cicaklah yang riuh renyah memecah suasana.

“Apa aku yang terlalu kasar dan keras ya? Dia gadis yang halus, harusnya aku gak usah sok berkuasa.” Fikir Bukhori, dia pun teringat pada kata-kata Dedek yang selalu bilang, “Abang jangan terlalu keraslah bang. Aku tahu watak abang emank gitu, tapi ketika kita berbicara dengan orang lain kita gak bisa membawa diri kita ke dalam pembicaraan. Kita harus mampu masuk ke dalam diri lawan bicara kita agar kita dapat mengerti yang dia rasakan.” Demikian kata-kata yang acap kali di ucapkan Dedek terhadap Bukhori. Bukhori langsung mengetik balasan pesan dari Dedek.

“Harusnya abang yang minta maaf, Dek. Abang yang kurang mengerti Adek, Abang selalu ngerasa kalau hanya Abanglah yang berkuasa di sini. Padahal enggak! Masalah anak-anak besok kita harus lebih ekstrim lagi menjaga mereka. Abang yakin kita bisa. Kita gak boleh mempemalukan diri kita, organisasi kita, dan mesjid kita tercinta. Jangan berhenti mengajar di mesjid karena kita harus tunjukkan ke semua orang kalau fungsi mesjid bukan hanya untuk melaksanakan sholat melainkan juga bisa untuk belajar. Mempelajari ilmu dunia dan akhirat. Ayolah Dek! Kita pasti mampu.” Setelah itu Bukhori menekan tombol sent.

Tak berapa lama, “Iya, Bang. Terima kasih. Kita harus bisa bekerja sama dalam hal ini.” pesan dari Dedek.

“Iya, yasudah. Malam tlah larut. Tidurlah!”

“Iya ,Bang.”

Keesokan harinya, seperti sebelumnya. Anak-anak bersiap-siap untuk mengaji dan les. Dedek ke kubu matematika dan Bukhori ke kubu Iqra’. Dedek pun angkat bicara,

“Assalamu’alaikum adek-adek kakak.”

“Wa alaikum salam, Kak.” Jawab anak matematika.

“Kalian sayang sama kakak?”

“Sayang, Kak.”

“Kalau kalian sayang, kakak minta tolong selama kita belajar jangan ada yang berisik. Oke?!”

“Iya, Kak.”

“Nah gitu donk. Pintar semuanya.”

“Ternyata dia memang gadis yang halus. Kemarahannya semalam tak mampu menepis kehalusan budinya. Meskipun ia tak sperti remaja lain yang glamor kemilau perkembangan zaman, tapi hatinya lebih kemilau dibanding cahaya. Aku malu terhadapnya.” Ucap Bukhori dalam hati.

Melihat Bukhori setengah melamun, Ega pun mengagetkan Bukhori.

“Derrrr! Hayo ustadz mikirin apa?”

“Gak ada. Udah ayo kita belajar. Ustadz gak mau kita ribut seperti semalam. Mengerti!?”

“Mengerti Ustadz.”

Setelah selesai mereka pun sholat Isya berjama’ah lalu pulang.

“Tiiit.” Dering handphone Dedek menandakan ada pesan masuk.

“Terima kasih telah mengajarkanku tentang kelembutan dan kehalusan. Terima kasih juga sudah memberikan kesan yang menancap dalam di hatiku.” Dedek keheranan setelah membaca pesan dari Bukhori. Kemudian dia keluar dari mesjid dan mencari Bukhori. Setelah bertemu,

“Maksudnya?” tanya Dedek pada Bukhori.


Namun Bukhori hanya tersenyum, Dedek yang tengah heran pun terpaksa tersenyum seadanya sambil beralih ke jalan arah pulang.